“Dalam tiap rutinitas ada kesempatan indah untuk berbuat sesuatu”

Leave a comment

Selasa 12 April 2011, tidak disangka-sangka kalimat renungan yang saya baca dipagi hari terjadi di malam harinya. Kalimat : “Dalam tiap rutinitas ada kesempatan indah untuk berbuat sesuatu” sampai sore hari masih saya nantikan kebenarannya, kira-kira apa bentuk kesempatan indah tersebut dan apa yang bisa saya perbuat.

Tepat sehabis adzan magrib, saya berangkat dari kantor menuju kosan. Belum jauh dari kantor, saya melihat kerumunan orang banyak sekali sambil berlari kecil berteriak menyuruh saya dan beberapa pengendara lain untuk memutar arah. Yang terlihat oleh saya adalah api yang membara didepan sana. Sontak saya berpikir kebakaran rumah, namun setelah saya tanya ke warga ternyata gardu PLN yang meledak dan terbakar. Mendengar itu saya langsung melapor ke supervisor dan memberitahukan lokasinya sambil saya mendekat ke lokasi gardu berada. Menurut instruksi beliau, padamkan saja dengan air karena listrik setempat sudah dipadamkan (PMT penyulang dikeluarkan). Melihat kerumunan warga, saya meminta bantuan ke warga untuk memadamkan dengan air. Akhirnya dengan meminta air dari masjid, gardu itu padam juga dengan dibantu juga oleh warga setempat dan satu orang Yantek.

Dari sebuah kejadian pasti ada ‘untungnya’, untungnya yang terbakar itu box rak PHBTR, api sempat merambat ke kabel koneksi sekunder trafo dan PHB namun tidak sampai ke trafo. Kalau sampai merambat ke trafo, tentunya akan lebih timbul kepanikan yang lebih dari sebelumnya. Ternyata setelah dianalisis, beban yang ditanggung trafo sudah besar mendekati 100%. Dan parahnya ada 2 buah sambung langsung (bendengan) di salah satu jurusan PHB yang seharusnya digunakan NH fuse sebagai pembatas. Sehingga saat beban puncak terjadi (sehabis magrib), panas berlebih yang diakibatkan beban atau arus tinggi melebihi ketahanan arus yang dimiliki PHB TR tersebut dan terjadilah ledakan. Yang menarik adalah, pekerjaan pemulihan gardu tersebut memakan waktu sangat lama. dari pekerjaan mulai jam 7.30 malam,  listrik baru menyala jam 2 pagi. Sebuah tantangan bagi PLN untuk mempercepat pemulihan gangguan kedepannya. Yang saya lihat, koordinasi antara petugas lapangan, pengawas dan posko, kemudian jumlah dan keahlian rekanan/pekerja kemudian keberadaan material harusnya bisa lebih ditingkatkan kinerjanya sehingga waktu pemulihan bisa dipersingkat.

Selama pekerjaan, masih cukup banyak warga yang melihat sekitar 10 orang, bahkan mendekati jam 2 malam makin banyak lagi yang datang. Mungkin karena jam 2.30 akan ada pertandingan sepakbola. Yang terlihat dari muka mereka dan hasil obrolan saya, adalah mereka sangat mengharapkan listrik segera menyala. Saat listrik menyala terlihat sebuah bentuk ucapan syukur dan kelegaan dari semua pekerja termasuk saya, begitu juga dengan warga sekitar. Inilah sebuah bukti bahwa saya dan teman-teman di PLN tidak boleh main-main dengan listrik atau pekerjaannya. Karena listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer. Saat listrik itu padam, saat itu masyarakat tidak bisa menikmati ‘family time’ dengan menonton TV atau sekedar makan bersama di ruang makan, bahkan bisa menghambat pemasukan bagi pemilik warung – warung makanan.

Dari kejadian ini saya harus berterima kasih kepada Tuhan, merupakan sebuah anugerah saya bisa mengalami kesempatan seperti ini. Kesempatan indah yang bisa saja saya tidak ambil dengan memutar motor seperti pengendara lainnya dan menjauhi lokasi gardu tersebut. Ternyata ketika kita disibukkan dengan rutinitas, akan datang kesempatan indah untuk berbuat sesuatu. Dan itu merupakan pilihan ketika kita bertemu kesempatan itu, akan kita ambil atau tidak. Namun setiap kesempatan yang kita ambil, ada konsekuensinya. Mengorbankan waktu tidur dan telat keesokan harinya adalah konsekuensi yang harus saya terima :p

3 hari yang sangat bermakna

3 Comments

Horeee, akhirnya setelah 10 tahun saya bisa juga pulang kampung!!. Ya 10 tahun lalu adalah 50th anniversary ompung ku dari ibu. Setelah acara itu belum pernah sekalipun saya pulang kampung. 5 tahun di Bandung ternyata berpengaruh besar, tidak bisa ikut pulang kampung bersama keluarga. Pulang kampung kali ini sebenarnya agak dipaksakan, mengingat hanya 3 hari menikmati Medan. Tapi ini adalah janji.

Saya pernah berjanji, begitu saya lulus kuliah dari ITB akan ziarah ke makam ompung dari bapak dan laporan ke ompung dari mama. Namun rencana itu urung terjadi, karena saya harus masuk pelatihan PLN. Tuhanpun punya rencana lain, ompung doli dari mamaku sakit keras. Sebelum masuk pelatihan, saya sempat ngotot untuk datang ke medan untuk menjenguk, namun tidak sempat. Di pelatihan PLN (pusdikpassus), siswa tidak diperkenankan mengaktifkan HP. Setelah beres pelatihan, saya mendapat kabar buruk, beliau sudah meninggal. Begitu mendengar kabar itu, air matapun tidak tertahan lagi. Ya, saya sungguh menyesal tidak sempat bertemu beliau untuk terakhir kalinya. Maafkan pahompumu ini pung, selamat jalan, aku yakin Tuhan Yesus akan sangat gembira menyambutmu di surga.

Penyesalan itu makin membulatkan tekadku untuk pergi ke Medan untuk ziarah kekedua makam ompungku itu. Akhirnya saya berangkat bersama keluarga menuju Medan. Tanggal 24 sore kami sampai Medan. Di bandara kami dijemput oleh uda friski, langsung menuju ke selat panjang. Bakmi pangsit!! Sangat enak!!. Sehabis makan, kami menuju rumah ompung dari bapakku di jalan teladan. Di sana kami menginap satu malam. Menghabiskan waktu dengan makan durian medan, murah tapi enak sekali!!! hahaha

duren murah enak

Pagi harinya (25 desember), jam 5 pagi, kami menuju pangunguran menggunakan mobil, salah satu kabupaten di pulau samosir. Untuk mencapai pangunguran, kami harus menyeberang dengan kapal ferri di pelabuhan parapat. Menurut informasi yang ada, kapal tersebut berangkat jam 9 pagi. Diperjalanan semua terasa lancer, namun sampai dipintu gerbang parapat, mobil kami mengalami masalah. Porslening mobil rusak, tidak bisa naik atau turun gigi. Dipanggilkan orang bengkel setelah jalan beberapa ratus meter. Setelah di cek, ternyata mataharinya rusak, dan diperkirakan baru selesai siang hari. Akhirnya  lewatlah jadwal keberangkatan ferri jam 9.

Ternyata Tuhan punya rencana lain, secara kebetulan tempat rusaknya mobil kami adalah sebuah wisma dimana tulangku adalah manager wisma tersebut. Pertolongan itupun datang, kami diajak pegawai wisma tersebut untuk makan siang dulu di sebuah penginapan yang menyediakan pemandangan yang bagus. Kamipun istirahat sebentar di penginapan tersebut sambil menunggu mobil rental yang telah dipesan oleh tulangku. Akhirnya mobil datang jam 1 siang, dan kami langsung menuju parapat. Kapal ferri selanjutnya baru berangkat jam setengah 3 siang sesuai jadwal, namun karena penumpang sangat ramai, kapal ferri pun berangkat jam 2 siang. Penyeberangan menuju pulau samosir memakan waktu 1 jam, jam 3 sore kami sampai di tomok. Dari tomok kami langsung menuju panguguran. Perjalanan menuju panguguran memakan waktu 1 jam.

Akhirnya sampailah di makam ompung doli. Kuburan orang Batak cukup unik, peti matinya tidak ditanam dalam tanah, namun dimasukkan dalam sebuah bangunan (sepeti gambar dibawah ini). Kami sempatkan untuk bersih-bersih lingkungan sekitar makam. Kemudian berdoa dan cuci muka yang sudah lazim dilakukan saat ziarah. 30 menit kami di tempat itu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju sumbul kampung ompungku dari mama.

Perjalanan ke sumbul melewati jalur yang lumayan membuat jantung berdetak kencang. Pertama karena sepanjang jalan yang ditemui adalah tebing dan jurang. Akses jalan yang tersedia pun hanya cukup untuk 2 mobil (baru satu bulan, sebelumnya hanya cukup 1 mobil pas), batu banyak tergeletak di sepanjang jalan hasil dari longsoran tebing dan jalan yang belum diaspal atau di cor beton. Namun dibalik itu, perjalanannya juga menyajikan pemandangan yang indah sekali. Karena kita bisa melihat danau toba dan pulau samosir dari puncak gunung!. Waw!. Danau yang bersih, warna hijau pohon pohon dipadu dengan barisan perahu – perahu yang tersusun rapih.

Sampailah kami dirumah ompung, saya turun pertama. Ditantang sama mama untuk nanya ke ompung, ngetes masih ingat atau tidak.

Robin : “pung, didia do jabu ni ompung sumuang??”

Ompung Boru : “di son, whaaaaahahaha, kawnya itu septa??”

Robin : “iya pung, hahaha”

Ya begitulah ompungku, kalau bisa dibilang aku sangat sedih ketika melihat ompung boruku ini. Mereka tinggal sendiri, sudah tua, ditinggal suami mereka. Namun karena sejak dulu hidup di jaman yang keras, jiwa tangguhnya masih tersisa. Pemandangan yang tersaji di rumah itu adalah ompung dengan perawakannya yang kecil dan membungkuk, kemudian rumahnya yang sunyi, halaman belakang yang luas dan toko jualan mereka. Pemandangan seperti itu mengingatkan aku dengan ompung doliku. Sedih bila mengingat – ingat lagi..

Namanya orangtua kalau anak dan cucunya datang pasti masak. Sama seperti ompung boruku yang di medan, dia juga menyiapkan makanan. Dan hebatnya mereka berdua punya makanan andalan yang berbeda. Opung medan dengan ayam goreng bumbu dan opung sumbul dengan ayam gulenya. MAntap!!!

-to be continued-

 

“Terjunlah ke lapangan untuk melihat secara langsung”

Leave a comment

Itulah kalimat yang keluar dari mentorku saat awal – awal saya datang ke PLN area teluk naga. Saat itu aku menghadap ke beliau untuk menyusun jadwal kegiatanku selama OJT. Kebetulan saat ini area teluk naga punya kegiatan inspeksi gardu dan penyulang yang merupakan turunan dari program perang padam (tulisan sebelumnya). Beliau mengharapkan saya bisa melihat sekaligus merasakan secara langsung kondisi lapangan. Karena menurut beliau, aku harus mengenal terlebih dulu material – material apa saja yang ada di jaringan distribusi.

Alhasil saya langsung saja meluncur ke bagian distribusi. Puji Tuhan bertemu langsung diarahkan ke bapak Jiyono, AE pengendalian dan pemeliharaan distribusi. Pagi itu juga saya meluncur bersama beliau menuju 5 buah gardu distribusi. Inspeksi gardu terbagi menjadi 2 kegiatan, yaitu mengamati kondisi fisik gardu dan melakukan pengukuran trafo. Kondisi fisik yang diamati adalah, keberadaan cut-out, arrester, rak TR, trafo (rembes atau tidak) dan kondisi sipil dari gardu. Kemudian pengukuran pembebanan trafo bertujuan mengetahui arus di tiap jurusan dan fasa, dan tegangan fasa – netralnya yang dilakukan dengan menggunakan alat tangampere.

Dalam melakukan inspeksi ini, kami melakukan bersama pak Adun dari bagian Yantek. Pengamatan fisik gardu (portal) tidak berjalan sempurna, dikarenakan trafo berada di atas sedangkan kami tidak mendapatkan fasilitas berupa tangga. Sehingga untuk mengetahui kondisi co, arrester, kode trafo, kabel sekunder, kabel primer dilakukan pengamatan dari bawah. Namun tampaknya orang – orang lapangan sudah terbiasa dengan kondisi ini, sehingga bisa langsung menyimpulkan dengan hanya pengamatan dari bawah :p. saat ingin melakukan pengukuran pembebanan, kami baru menyadari, bahwa tangamperenya tidak terbawa. Alhasil pengukuran pembebanan dilakukan besok harinya.

Untuk pengukuran pembebanan trafo cukup mudah, karena sudah didukung oleh alat yang cukup canggih. Namun yang harus diperhatikan adalah waktu pengukuran. Pembebanan trafo sangat bergantung kepada perilaku konsumen tiap jamnya, bahkan tiap detiknya. Beban bisa saja naik dengan cepat dan turun dengan cepat pula. Yang bagus adalah di tiap gardu sudah dilengkapi dengan alat ukur otomatis yang mampu mencatat hasil ukur tiap saat, atau dengan periode waktu yang ditentukan. Namun bayangkan di tiap gardu distribusi dipasang alat tersebut, tentu dibutuhkan banyak sekali alat ukur dan akan memakan biaya yang tidak sedikit. Jad untuk mengantisipasinya, area distribusi mempunyai bidang Yantek (pelayanan teknik) yang bertugas menginspeksi gardu – gardu secara rutin.

Dari pengalaman dua hari melakukan inspeksi, saya jadi menyadari, sebenarnya tantangan yang besar dan banyak itu ada di distribusi. Karena unit distribusi dituntut untuk bisa menyalurkan listrik ke konsumen secara kontinu dengan kualitas yang baik. Dan pembentukan citra PLN di mata masyarakat ada di unit distribusi.  

Perang padam…

Leave a comment

Perang padam adalah suatu program yang dicanangkan oleh PLN untuk memerangi pemadaman yang belakangan ini sering terjadi. Disjaya dan tangerang adalah salah satu unit kerja PLN yang bergerak dalam usaha penjualan listrik. Energi listrik yang dijual tersebut, ‘dibeli’ oleh unit distribusi dari P3B melalui gardu induk. Kemudian listrik tersebut dijual ke pelanggan – pelanggan. Dari gardu induk, listrik tersebut dialirkan lewat penyulang – penyulang lewat SUTM maupun SKTM. Di tiap penyulang terdapat gardu – gardu yang terdapat trafo untuk menurunkan tegangan menjadi tegangan rendah yang merupakan tegangan nominal yang dipakai oleh konsumen. Jenis gardu yang lazim dipakai adalah gardu portal dan gardu beton. Gardu portal untuk kawasan perumahan dan gardu beton biasanya untuk industry – industry yang memakai 3 phase.

Padam listrik (atau mati lampu) diartikan sebagai terputusnya aliran listrik dari sumber ke pelanggan. Dalam system distribusi, sumber energy listrik bisa dikatakan berasal dari gardu induk atau tepatnya trafo. Pemadaman listrik yang terjadi bisa dikategorikan menjadi dua. Yaitu, pemadaman terencana dan pemadaman tidak terencana. Pemadaman terencana dikarekan adanya pemeliharaan komponen atau peralatan penyaluran tenaga listrik. Sedangkan pemadaman tidak terencana diakibatkan oleh gangguan.  Pemadaman yang sering terjadi sering kali disebabkan oleh gangguan – gangguan pada penyulang dan gardu – gardu tersebut. Untuk itu perlu dilakukan inspeksi penyulang dan gardu untuk mengetahui kondisi actual dari keduanya. Inspeksi inilah yang dirangkum menjadi suatu kegiatan yaitu perang padam.

Disjaya dan tangerang sebagai salah satu unit bisnis ketenagalistrikan yang berhubungan langsung dengan konsumen mempunyai kewajiban untuk mengurangi gangguan yang menyebabkan pemadaman tersebut. Untuk itu dicanangkan lah program Perang Padam yang intinya adalah memeriksa kondisi actual penyulang – penyulang dan gardu – gardu distribusi. Untuk gardu distribusi, yang diperiksa adalah kondisi fisik trafo, peralatan proteksi seperti cut-out dan arrester serta melakukan pengukuran pembebanan trafo.

Fakta yang terlihat dilapangan cukup mengkhawatirkan, banyak ditemukan trafo yang rembes atau bocor, arrester dan co yang sudah retak dan trafo yang sudah mencapai pembebanan diatas 80%. Kondisi seperti ini sangat rentan untuk terjadi gangguan.  Belum lagi bila melihat banyaknya SUTM yang tersangkut dan tertutup oleh pohon, bahayanya adalah ketika terjadi hujan bisa mengakibatkan short. Pengukuran pembebanan trafo sebenarnya belum menjamin 100% valid, mengingat pembebanan puncak trafo bisa terjadi kapan saja tergantung perilaku konsumen. Hal ini dikarenakan di trafo – trafo distribusi tidak terdapat alat pengukuran beban yang otomatis dan bisa terpantau setiap saat seperti di gardu – gardu induk 150 kV dan 20 kV. Hal ini lah yang menjadi jawaban kenapa di GI lebih jarang terjadi gangguan dibanding gardu – gardu distribusi.

Namun perang padam ini menurut saya program yang sangat tepat dan bagus. Dari program ini bisa diketahui kondisi – kondisi peralatan – peralatan GD. Langkah selanjutnya adalah dilakukan penggantian – penggantian trafo – trafo yang bocor, kemudian penertiban – penertiban pelanggan liar yang diprediksi menjadi penyumbang terbesar kerugian teknik maupun non-teknis di system distribusi.

Go perang padam!! Wujudkan 345-9!!!..

3 jam gangguan dalam satu tahun (SAIDI), 45 respon pengaduan gangguan, dan 9 kali gangguan dalam satu tahun (SAIFI)!!!!

Mau apa??

Leave a comment

Ketika ditanya,

“ apa yang anda lakukan ketika telah diangkat menjadi karyawan tetap PLN?”

Jenis jawaban seperti apa yang anda buat??

  1. Belajar dan bekerja
  2. Bekerja dengan giat sesuai dengan prosedur yang berlaku.
  3. Menjalankan tanggung jawab sebagai pekerja dengan sebaik-baiknya. Selain itu terus mengasah pengetahuan system ketenagalistrikan secara formal dan informal. Informal dengan cara belajar dari rekan kerja, senior bahkan bawahan bila saya punya. Formal dengan mencoba meraih kesempatan beasiswa S2 dari PLN. Saya tertarik untuk ditempatkan di perencanaan system operasi dan dispatcher. Cita – cita saya sekarang adalah membantu PLN untuk mencapai elektrifikasi 100%.

Kira – kira apa jawaban anda? Kalau saya pilih apa ya.. :p

Mmmmm, setelah menulis jawaban dan dikumpul. Saya jadi berpikir lagi tentang jawaban saya. Ada 3 inti dari tulisan saya

Bekerja, belajar dan cita –cita

Bekerja sudah tentu kewajiban seorang pegawai, pegawai apapun itu. Bekerja saja tidak cukup, perlu tambahan suplemen, yaitu ikhlas dan cinta. Dengan mengikutkan keduanya dalam pekerjaan, pasti hasil pekerjaan kita akan baik dan bermanfaat. Kemudian belajar, secara umum kata – kata belajar tidak aneh mengingat salah satu kompetensi inti PLN adalah pembelajaran yang berkesinambungan. Namun ketika saya membaca lagi, ada kata –kata kesempatan beasiswa s2. Kalimat ini terkesan permintaan atau harapan?? menurut saya ini sebuah harapan, mengharapkan sesuatu tidak ada salahnya. Namun ya tetap ingat, laksanakan dulu kewajiban kita sebaik-baiknya baru bisa mengambil hak berupa beasiswa S2 tersebut. Aminn,,

Keinginan saya untuk menjadi perencana system atau dispatcher karena memang saya tertarik dan merasa cocok dgn pekerjaan itu. Perencanaan system ( system planning engineer, sama kek plano ya?? :D ) adalah perencanaan pengoperasian system yang meliputi perencanaan pembangkitan dan perencanaan penyaluran tenaga listrik untuk mencapai sasaran operasi system tenaga listrik yang bermutu, andal dan ekonomis. Perencanaan system operasi sangat lah penting, karena ada satu prinsip tenaga listrik yang harus dipenuhi

“saat tenaga listrik dibangkitkan, saat itu juga tenaga listrik tersebut di konsumsi”

Konsumsi tenaga listrik sesuai dengan kebutuhan konsumen, setiap saat bisa saja berubah untuk itu diperluakan perencanaan operasi yang matang. Dengan kata lain, perencanaan system operasi adalah suatu usaha dari operator system ketenagalistrikan untuk memastikan jumlah tenaga listrik yang dibangkitkan sesuai dengan yang diminta (beban), membangkitkan saja tidak cukup, namun harus bisa memastikan jalur penyaluran tenaga listrik tersebut. Tahapan – tahapan dalam perencanaan system adalah

  1. Pembuatan Prakira Beban (Rencana Energi)
  2. Perencanaan Hidro
  3. Penjadwalan Pembangkit
  4. Penjadwalan Penyaluran
  5. Penyusunan Neraca Daya
  6. Optimasi Hidrothermal
  7. Simulasi Produksi
  • Optimasi dan Biaya Operasi
  • Studi Kecukupan Daya

* Penjelasan lebih lanjut tentang perencaan system, dilain waktu ya :D

Setelah perencanaan operasi system selesai, tugas dispatcher lah untuk mengendalikan system dalam kondisi real time. tugas utamanya adalah mengendalikan produksi pembangkit – pembangkit dan penyaluran daya.

Dan yang terakhir adalah, soal pengungkapan cita-cita saya membantu PLN mencapai elektrifikasi 100%. Kalau ini saya tidak boleh dan tidak mau mikir – mikir ulang lagi. PALAPA 2020.. Amin…

Doa adalah tenaga, harapan adalah penjaga..

Leave a comment

Tersebutlah seorang pemuda, penuh dengan semangat yang menggebu-gebu. Dia tumbuh dengan idealisme yang kuat selama menjalani kehidupan perkuliahannya. Dia yakin, hanya dia dan teman-temannya lah yang mampu merubah bangsanya ke kehidupan yang lebih baik. Pemuda ini rajin sekali membaca buku, dari buku tentang sejarah peradaban yang mengajarkan dia bahwa tiap peradaban punya keunikan dan produk yang unik satu sama lain. Dia juga membaca buku sejarah bangsanya yang membuat iya tahu bahwa bangsanya adalah bangsa yang kaya akan sejarah. Daerah satu dengan lainnya mempunyai sejarah kebudayaan, agama dan konstruksi masyarakat yang unik satu sama lain. Pemuda ini juga membaca buku biografi tokoh-tokoh terkenal yang membuat iya menemukan tokoh idolanya dan dengan tekad yang tinggi akan mengikuti jejak-jejak hidup orang tersebut. Dengan membaca berbagai jenis buku-buku tersebut, pemuda ini yakin dengan ilmu dasar yang dimilikinya, dia dapat melihat bangsanya tersenyum dengan memiliki dirinya.

Tibalah dia di garis start untuk memulai semua cita-citanya. Segala persiapan sedang dilakukannya sebelum melangkah dari garis tersebut. Seperti halnya atlet lari, pasti ada aba-aba bersiap sebelum aba-aba mulai berkumandang. Teriakan-teriakan berisi motivasi terngiang-ngiang di telinganya. Teriakan berisi doa dan harapan. Ya pemuda ini merasakan adanya doa dan harapan yang ia terima dari orang-orang sekitarnya. Keinginan pemuda ini hanya satu sebenarnya, ia hanya ingin dirinya bertahan sampai garis finish. Pemuda ini ingin sekali berada di garis itu, karena hanya dengan berada di garis itulah akan terlihat perwujudan semua cita bersama teman-temannya. Ya, pemuda ini yakin ia berlari bersama sahabat-sahabat yang akan dengan sekuat tenaga bersama-sama meraih garis tersebut. Doa adalah sebuah tenaga tambahan yang membantu ia untuk yakin bahwa bisa bertahan hingga garis tersebut, dan harapan yang ia terima adalah sebuah penjaga agar ia tetap berada di jalan yang benar dan tetap fokus sepanjang perjuangan menyentuh garis finish tersebut.

Doa dan harapan, berbahagialah orang yang masih memiliki karunia untuk mendapatkannya dari orang-orang sekitar. Tetaplah berjalan menuju garis finish yang diinginkan dengan menaruh kedua unsur tersebut di setiap langkah.

Jadi bola salju, selesaikan segera..

Leave a comment

Gerah juga melihat pemberitaan di media belakangan ini. Permasalahan datang silih berganti, satu masalah belum terselesaikan muncul lagi masalah yang baru. Hal ini terlihat dengan masih mengambangnya kasus Century, hilangnya berita nasib jemaat di suatu rumah ibadah Bekasi, penanganan atau dugaan teroris kepada Abu BB. Ya kali ini media sedang menyoroti tentang hubungan Indonesia dengan Malaysia. Seperti kita tahu, baru – baru ini ada kasus antara nelayan dan petugas Indonesia dengan Malaysia di perairan yang bahkan sampai saat ini belum jelas. Masyarakat kita tidak bisa menerima penangkapan 3 petugas DKP oleh polisi Malaysia yang menurut kesaksian, mereka diperlakukan selayaknya tahanan disana. Masyarakat juga tidak bisa menerima ketika 3 petugas DKP bebas oleh proses “barter”. Entah bagaimana proses yang sebenarnya, hal ini memancing kemarahan rakyat Indonesia, dan sayangnya kemarahan itu ditunjukkan dengan berbagai tindakan yang menandakan “penyataan perang” seperti membakar bendera Malaysia dan aksi pelemparan tinja. Terang saja tindakan ini memancing kemarahan pihak Malaysia. Bila benar – benar terjadi konfrontasi, apa sih ruginya dan apa sih untungnya bagi keduanya. Masalah kedaulatan memang yang utama, namun mediasi juga diperlukan, toh perang secara terbuka tidak menjamin kedamaian seperti yang dialami Israel dan Palestina.

Lantas, benarkan hubungan Indonesia Malaysia segitu buruknya, bagaimana sih sebenarnya interaksi yang terjalin antara rakyat Indonesia dan Malaysia itu sendiri, apakah mereka saling membenci atau memang hanya segelintir orang yang terlibat dengan kemarahan kedua negara ini?. Yang pasti pemberitaan media akan sangat berpengaruh terhadap mediasi kedua negara ini. Ingatkah kita dengan kasus Manohara? banyak yang berbeda pendapat mengenai kasus ini dan kebenarannya pun masih absurb, namun masyarakat keburu mengambil kesimpulan hal ini merupakan pelecehan terhadap rakyat Indonesia. Atau kasus penyiksaan TKI? awalnya permasalahan kecil, karena tidak diselesaikan segera akhirnya membesar seperti bola salju. Ya maw bagaimanapun akhirnya nanti, semoga hasilnya baik untuk Indonesia (hahaha)..

Yang lebih menarik justru adalah makin banyaknya permalahan negri kita sendiri yang melibatkan sentimen agama. Kebrutalan dan ketidaksabaran ormas kepada umat agama berbeda maupun terhadap pemeluk sesamanya memperlihatkan ada yang salah dengan keberagamaan di Indonesia saat ini. Permasalahan ini sebaiknya segera dibereskan. Karena kalau tidak akan menjadi bola salju seperti halnya hubungan Indonesia dan Malaysia sehingga perpecahan akan terjadi, kestabilan negara akan terancam sehingga akan makin mudah masuknya pengaruh luar lewat “bantuan” mereka. Ya kalau dipikir-pikir, isu agama memang rentan sekali untuk diutak-atik atapun dijadikan alat untuk menimbulkan perpecahan di negara kita hal ini lebih rentan daripada suku. Sebaiknya sekarang dihindari sebisa mungkin pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung agama lain, atau pertanyaan yang mengetes keberagamaan seperti, “terganggukah anda dengan suara azdan dari masjid sebelah??” atau ” terganggu tidak saudara dengan kegiatan jemaat di ruko itu??”. Karna pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat sensitif, padahal kuncinya cuma dua, yaitu toleransi dan jalankan agama kita sendiri dengan sebaik-baiknya.

Keteledoran manusia

Leave a comment

oaalllaaahhh, cuma karena ini toh…huff seringkali, keteledoran melanda. Hal kecil memang kadang – kadang tidak terlihat oleh kita, atau tidak kita sangka – sangka akan terjadi. Kira – kira itulah pelajaran yang sering orang dapatkan, ketika sedang menghadapi masalah dan ternyata solusi dari permasalahan itu mudah sekali karena sumber permasalahan tersebut hanyalah hal kecil. Hal kecil tersebut baru kita sadari di akhir – akhir ketika solusi sudah didapat dan tidak  jarang penyebabnya adalah keteledoran semata.

Pernahkah kita menghadapi permasalahan di pagi hari menjelang berangkat sekolah atau ke kantor, dimana kita kehilangan topi upacara atau dasi. Topi dan dasi mempunyai tempat masing – masing yang berada di dalam rumah kita, namun 2 barang ini seringkali susah untuk ditemukan di pagi hari. Tidak heran, hilangnya dua benda ini bisa membuat wajah kita musam di pagi hari bahkan bisa telat sampai tujuan. Namun ketika ditemukan, ternyata topi berada di tas sekolah karena lupa dikeluarkan sejak minggu sebelumnya, atau dasi masih ada di mobil. Ya, keteledoran kecil bisa mengakibatkan masalah yang terkadang berada dalam skala besar.

Contoh diatas adalah realita pribadi yang sering terjadi. Bagaimana dengan realita yang terjadi di masyarakat terkait dengan keteledoran ini. Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita terus-menerus disuguhi berbagai macam berita mengenai Indonesia bahkan dunia internasional yang tidak menyenangkan. Di Indonesia ada ancaman bom gas elpiji, perampokan bank dan toko,  terorisme, konflik agama dll. Dunia internasional datang dengan berita banjir yang melanda china dan pakistan yang sudah menelan beribu korban meninggal, kemudian iklim terpanas yang dirasakan warga moskow, Rusia, bahkan ada lagi permasalahan 3 anggota DKP “ditukar” dengan 7 nelayan malaysia. Huff, semuanya tentu adalah sebuah permasalahan yang sudah masuk taraf mengkhawatirkan.

Kalau bisa diambil sebuah persamaan, semua permasalahan diatas mempunyai irisan yang sama yaitu manusia. Manusia sejak awak diciptakan merupakan pusat dari segala fenomena fisik maupun sosial yang ada di muka bumi ini. Namun kalau saya boleh mengandai-andai, peran manusia hanyalah sebagai eksekutif, ada sebuah “lembaga” tinggi, yang esa yaitu Tuhan. Manusia dalam hal ini menjalani perannya dengan berelasi atau menjalin hubungan dengan alam, manusia itu sendiri dan sesamanya , dan juga kepada Tuhan. Untuk itu, manusia mempunyai tanggung jawab, wewenang dan peran masing – masing yang diberikan oleh Tuhan untuk berelasi dan hidup bersosial dengan alam, manusia dan Tuhan. Ketika manusia gagal menjalaninya hal itu adalah akibat keteledoran manusia dalam menjalankan tanggung jawab, wewenang dan peran mereka masing-masing.

Kalau ingin di kelompokkan, bom gas elpiji, perampokan bank dan toko, dan permasalahan 3 anggota DKP “ditukar” dengan 7 nelayan malaysia merupakan keteledoran manusia dalam menjalin relasi dengan diri sendiri dan manusia sesamanya. Kemudian, banjir China, Pakistan dan iklim panas Moskow merupakan keteledoran manusia dalam menjalin hubungan dengan alam. Dan terakhir, kasus terorisme dan konflik agama adalah keteledoran manusia dalam mejalin hubungan dengan Tuhan. Dan ketiga kelompok ini berpusat kepada manusia, manusia yang gagal dalam menjalin hubungan baik dengan ketiga unsur tersebut : alam, manusia dan Tuhan.

Tetapi hal inipun sedikit membantu dalam mencari solusi permasalahan. Manusia itu sendirilah yang harusnya menjadi solusi. Karena manusia adalah pusat dari 3 relasi yang terjalin, maka ketika pusatnya adalah sebuah solusi kemungkinan besar relasi yang terjalin akan menghasilkan solusi atas permasalahan yang ada. Untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam, manusia bisa mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, atau bisa saja menjadi aktivis lingkungan tanpa pamrih yang mau melakukan suatu pekerjaan lingkungan tanpa paksaan dan imbalan apapun.

Hubungan manusia dan Tuhan sebenarnya sudah disusun sangat teratur dan jelas oleh agama yang dipeluk oleh masing-masing individu. Namun seringkali pengertian manusia satu dan yang lainnya berbeda mengenai ajaran agama yang ada. Kuncinya hanya satu, perdalam iman dan kepercayaan masing – masing dan hormati pemeluk agama lain dalam menjalankan dan mengamalkan nilai – nilai agama mereka. Bentrok antar agama dan kasus terorisme adalah suatu bentuk dari rusaknya relasi manusia dengan Tuhan ketika manusia tidak mampu mengamalkan nilai-nilai agama yang mereka anut dengan benar dan bertanggung jawab.

Hubungan manusia dengan diri sendiri dan sesama adalah sesuatu yang sangat sulit. Manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Sifat tamak, haus kekuasaan, mata duitan, emosi berlebih adalah contoh – contoh sifat manusia yang tidak mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Manusia dirasuki oleh nafsu duniawi yang membuat kita lupa akan tanggung jawab yang diberikan dalam pekerjaan ataupun perkuliahan. Kesalahan prosedur pekerjaan yang disengaja, produksi barang yang asal-asalan demi mendapatkan keuntungan lebih adalah contoh bagaimana ketamakan manusia mengambil alih profesionalitas dalam bekerja. Ketika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, otomatis hubungan manusia dengan sesamanya akan menjadi buruk. Kehilangan Kasih terhadap sesama adalah suatu jawaban mengenai kenapa banyak bentrok yang terjadi antar sesama manusia. Bentrok boleh terjadi, namun hanya bentrok ide dan pikiran yang diperbolehkan karena itulah yang akan memajukan kehidupan manusia.

Mari kita mulai berpikir selangkah demi selangkah, jangan terlalu terburu-buru menyalahkan orang lain atau langsung cuek saja dengan permasalahan yang ada. Orang yang cuek dengan permasalahan adalah orang yang tidak bersyukur diberkahi kemampuan berpikir, Orang yang memilih menuduh adalah orang yang tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya dan Orang yang memilih menjadi perubahan adalah orang yang yakin dengan apa yang dipikirkannya.

Manusia yang memecahkan gelas dan kalau tidak hati – hati manusia jugalah yang akan tersakiti akibat menginjak pecahan gelas tersebut

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.