6 Agustus 2010

“Lewat wadas aja mang, jam segini masih lancar ko” seru mamaku.

“oke ma, kita lewat tol aja ya”, jawabku.

Sampai di tol, ratusan mobil akan terlihat seperti barisan peserta upacara bila dilihat dari atas. Jam dijital mobil memperlihatkan pukul 6.00.

“Berangkat dari jam brapa ya orang – orang dari bekasi ini” tanyaku

“Jam 5 lah mang, gitulah keadaan skrg. Jam 5 udah brangkat, malam baru bisa pulang, gimana ga stress coba”, jawab mamaku

“Iya bin, menurut berita 50an% mobil yang melintas di Jakarta itu bukan berasal dari Jakarta, tapi dari kota – kota sekitar Jakarta seperti Bekasi, Depok dll” seru Hendra, teman saya.

Ya itulah potret Jakarta saat ini. Begitu banyak jumlah kendaraan yang melintas, baik di jalan raya maupun jalan tol. Sempat ada penelitian yang meramalkan Jakarta tidak akan lagi mengalamati kemacetan, namun lebih buruk lagi, kendaraan tidak akan bisa bergerak pada 2015 andai laju penambahan kendaraan tidak dikurangi. Banyak persoalan sebenarnya, perilaku konsumen yang terlalu konsumtif, transportasi umum yang belum bisa menggoda masyarakat untuk meninggalkan pemakaian kendaraan pribadi, perluasan jalan tersendat oleh dana atau perizinan, begitu mudahnya memperoleh kredit pembelian kendaraan dan lain – lain. Namun bila melihat begitu banyaknya pendatang dari kota lain yang bekerja di Jakarta dan mereka sangat butuh kendaraan menuju kantor, fenomena ini tidak bisa dihindari karena memang ada unsur kepentingan pribadi dalam hal ini.

Jakarta adalah ibukota Negara Republik Indonesia. Segala pusat elemen Negara ada disini, pusat pemerintahan, pusat industry, pusat hiburan, pusat pendidikan, pusat pengadilan semuanya ada disini. Wacana pemindahan Ibukota adalah salah satu solusi untuk mencegah hal yang tidak diinginkan di atas. Proses pemindahan ibukota membutuhkan waktu yang tidak sedikit, beberapa Negara pernah melakukannya. Persiapan yang harus matang, adalah menentukan daerah mana yang cocok dan siap dari segi infrastruktur dan tatanan social masyaratkat disana, jangan sampai infrastruktur siap, namun masyarakat belum siap mengalami perubahan – perubahan social yang mungkin mereka alami nanti. Yang perlu diperhatikan juga adalah kesiapan pemerintah untuk menekan angka pengangguran bila terjadi pemindahan pusat perkantoran ataupun industry ke daerah lain. Solusi yang cukup bijak adalah hanya memindahkan beberapa kantor pusat diatas ke daerah lain, namun ibukota tetap di Jakarta. Disamping tentunya solusi perubahan perilaku masyarakat Jakarta untuk lebih menahan diri membeli kendaraan pribadi dan memilih untuk memakai kendaraan umum. Pemerintah Jakarta juga harus lebih bekerja keras menata transportasi umum.

Tapi ujung2nya solusi – solusi itu kembali kepada kesadaran warga Jakarta dan sekitarnya itu sendiri. Kelancaran perpindahan ibukota menjadi suatu fungsi dengan kesadaran masyarakat sebagai variabelnya. Sadar saja tidak cukup, masyarakat juga butuh pengetahuan yang bagus tentang permasalahan Ibukota ini dan masyrakat juga butuh difasilitasi andaikan perpindahan Ibukota benar – benar terjadi.

Advertisements