Berkaca pada Prancis..

2 Comments

Pada tahun 1950-an, setelah perang dunia ke II, Negara – Negara yang terlibat mulai berbenah. Tujuan mereka sama, ingin memulihkan diri dan kemudian bercita – cita menjadi bangsa yang unggul. Amerika mengambil langkah untuk memperkuat kekuatan ekonominya, dengan strategi membuat badan keuangan, yaitu world bank dan IMF. Di  Amerika, ahli – ahli ekonomi dan hukum mendapat tempat terhormat dalam derajat masyarakat, karena memang untuk mendukung visi mereka tersebut.

Lalu bagaimana dengan Prancis? Prancis mengambil langkah berbeda. Mereka ingin menjadi bangsa yang unggul dalam teknologi dan ilmu pengetahuan. Pada tahun 1956, mesir menutup jalur transportasi utama minyak dari timur tengah ke eropa. Hal ini akan berbahaya, bila saat pasokan minyak suatu saat berkurang, mereka masih bergantung terhadap impor minyak (kekuatiran akan harga minyak yang sangat tinggi). Salah satu penggunaan minyak saat itu adalah untuk sector pembangkit energy. Untuk mencegah hal itu, pemerintah Prancis mulai mengembangkan teknologi pembangkit tenaga nuklir pada saat itu dengan membangun 6 reaktor per tahun. Dan pada tahun 1973, ketakutan mereka terbukti. Arab melakukan embargo, sehingga harga minyak bumi melonjak tinggi saat itu. Sebelum lonjakan harga minyak terjadi, pada tahun 1963 prancis telah mampu membuat pembangkit nuklir komersial yang mempunyai umur rata – rata 18 tahun. Saat ini prancis mempunyai 59 reaktor nuklir, dioperasikan oleh  Electricite de France (semacam PLN di Indonesia), dan mempunyai kapasitas total 63 GW yang mampu mensuplai kebutuhan energy sebesar 426 juta kWh per tahun. Jumlah ini mencapai 80% dari total pembangkitan energy listrik di Prancis, dan merupakan yang terbesar sampai saat ini. Selain untuk dipakai untuk kebutuhan dalam negeri, Prancis juga mengekspor sekitar 60-70 juta kWh energy listrik tiap tahun, yang menjadikan Prancis sebagai Negara terbesar pengekspor energy listrik.

Reaktor nuklir Prancis sebenarnya menggunakan teknologi Amerika. Setelah bereksperimen dengan reaktor jenis gas-cooled di 1960-an, ditemukan bahwa tingkat keamanan dan efisiensi jenis tersebut buruk sehingga membuat Prancis menyerah dan membeli  produk Amerika pressurized water reactors yang didesain oleh WestingHouse.  Keputusan membeli hanya menggunakan satu tipe reactor, membuat mereka mampu membangun pembangkit yang lebih ekonomis daripada yang dibangun di Amerika. Selain itu perencanaan yang matang, pengoreasian terpusat (Electricite de France ) dan dengan manajemen energy yang bagus membuat Prancis akhirnya unggul dari Amerika dalam hal keamanan dan efisiensi operasi PLTN.

Apa rahasia keberhasilan PLTN di Prancis?

More

Pelestarian budaya itu kebiasaan…

9 Comments

kami ingin memakai batik

kami ingin memakai batik

Kemarin baru saya alami, batik begitu mudah berada dalam penglihatan saya. Ya, 2 Oktober kemarin adalah hari ditetapkannya batik sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO. Rakyat Indonesia dianjurkan memakai batik pada hari itu, kalangan pelajar, pegawai dan rakyat Indonesia pada umumnya.

Pagi hari saya naik angkutan umum menuju kampus dengan memakai batik pinjaman. di dalam angkot ada sekitar 6 orang termasuk saya yang memakai batik. Turun dari angkot dilanjutkan berjalan kaki menuju kampus. Dalam perjalanan, cukup banyak mahasiswa/i yang memakai batik. Batik bukan hanya dalam kemeja, batik adalah corak. Tas, celana, rok, sepatu atau apapun yang melekat di tubuh bisa bercorak batik yang berbeda-beda. Berbeda bentuk dan corak, namun tetap satu nama, yaitu batik. Bhinekka tunggal ika??

Sungguh  hari yang menyenangkan. Melihat banyak orang memakai batik seperti yang saya kenakan. Seperti ada sebuah persamaan antara satu dengan yang laiinnya. Yang wanita terlihat lebih anggun dan yang pria terlihat lebih gagah. Yang memakai batik adalah orang tua, acara resmi, bupati, gubernur, mentri, presiden dan orang – orang berkedudukan tinggi lainnya. Paradigma ini yang seringkali muncul di benak masyarakat Indonesia, terutama pemuda/pemudi. Namun melihat kemarin, paradigma itu gugur, semua bisa memakai batik dalam kondisi apapun.

Batik adalah warisan budaya nenek moyang kita. Baru – baru ini kita dikagetkan oleh klaim sebuag negara atas warisan budaya kita. apa sikap kita? hanya reaktif tidak lebih. Saya sebenarnya kesal, namun saya lebih kesal dengan sikap saya yang tidak melestarikan budaya saya sendiri. Saya berasal dari tanah batak, tapi saya belum bisa melestarikan budaya itu dalam diri saya sendiri. Tapi saya yakin, melihat contoh kemarin, sebuah usaha pelestarian budaya hanya membutuhkan kebiasaan. Ya kebiasaan, sama seperti budaya yang awalnya memang berawal dari kebiasaan suatu masyarakat tertentu. Ketika kita biasa untuk membahas, mengkaji dan menggunakan berbagai wujud dari budaya dalam kehidupan sehari – hari, budaya kita akan lestari dan tak perlu takut bila kelak ada klaim dari negara lain atas budaya Indonesia..

Persepsi Media dan Berita

Leave a comment

Ada hal – hal menarik dalam diri orang Indonesia, yang belakangan ini sangat menonjol. Terutama dalam menanggapi pemberitaan media dan kejadian – kejadian yang terjadi. Semua tergantung persepsi orang yang melihatnya, apakah ini buruk atau tidak.

1. 2 minggu lalu rakyat Indonesia baru melakukan suatu proses pemilihan umum untuk menentukan siapa pemimpin kami kelak. Seperti kita ketahui saat pemilihan legislative sebelumnya, ada beberapa kasus mengenai DPT ( Daftar Pemilih Tetap ), seperti protes warga Papua yang menetap di Surabaya tidak masuk dalam DPT. Hal ini sempat menjadi perhatian para calon presiden sebelum pemilu presiden dilaksanakan. Akhirnya keluarlah keputusan MK kalau KTP bisa digunakan untuk mencontreng dengan beberapa persyaratannya. Sampai saat ini memang belum ada bukti pasti apakah keputusan itu berpengaruh besar dalam meningkatkan partisipasi warga. Namun pemilu berjalan, walau banyak protes yang masuk ke KPU dan Bawaslu mengenai dugaan – dugaan kecurangan namun kekuatiran boikot dan belum ( karena hasil resmi belum dikeluarkan) terjadi hal – hal yang tidak diinginkan. Mengapa bisa seperti ini, benarkah sudah dewasanya rakyat Indonesia dalam menanggapi isu – isu ( bahkan dalam kampanye melibatkan isu SARA ) seputar pemilu?. Kalau kita melihat pemberitaan televisi, tentang ketidakrapihan kinerja KPU, Bawaslu, MK, atau bahkan isu2 kampanye para tim sukses calon presiden, dalam hati kecil pasti banyak berkata, Pemilu ini ada ketidakberesan. Apakah berjalannya Pemilu cerminan bahwa Rakyat Indonesia puas dengan Pemilu ini?. Atau ketidakpuasan itu memang sebaiknya dipendam untuk menghindari konflik?.

More

kutipan “polemik Kebudayaan”

Leave a comment

kutipan dari “polemik kebudayaan”…

….zaman modern tidak mengijinkan lagi

kita hidup dengan lebih menoleh ke belakang

menurut saluran adat  yang mengikat jiwa manusia

tapi tepat ke depan

dengan menggunakan budi dan fikiran yang bebas lepas menyiasati

segala kenyataan – kenyataan.

Dan kalau ada sesuatu yang mengikat kita

itu hanyalah semata – mata kewajiban dan rasa tanggung jawab kita

terhadap kemajuan Kemanusiaan

dalam arti sebenar – benarnya

-Achdiat K. Mihardja-

kata kunci : modern, adat, budi dan fikiran, kemajuan kemanusiaan.

Namanya roda kehidupan selalu ada namanya masa lalu, masa kini dan masa datang. Sejarah mengisahkan tentang peradaban manusia, salah satunya budaya. Sebuah budaya atau adat adalah hasil dari sebuah pemikiran demi kemajuan kemanusiaan. Salah satunya adalah budaya yang dianut suku – suku  yang tersebar di Indonesia. KArakteristik tiap suku bisa dilihat dari tiap penganutnya, dia Indonesia suku berdasarkan asal daerah. Jenis pakaian, bentuk rumah, upacara adat pernikahan, upacara adat kematian, dll, inilah bentuk2 adat dari tiap suku yang semuanya mengatur relasi  manusia dengan sesamanya.

Masuk ke masa kini, muncullah suatu budaya/adat baru, modernitas. Tidak seperti suku sebelumnya, adat ini bisa dianut oleh semua orang. Benarkah adat2 kita sudah tidak relevan dalam kehidupan modern?. Misalkan acara pernikahan. Pernikahan intinya pengukuhan janji setia sehidup semati untuk saling mengisi dalam kehidupan suami dan istri. Pestapun dilaksanakan, tata cara, syukuran yang sayangnya terpatri untuk keadaan mewah. Mewah dihadapkan kepada kekayaan, kehambur – hamburan, kehilangan makna, bila dikaitkan keadaan ekonomi. mungkin bagi sang kaya tidak jadi masalah.  Ini mungkin maksud kata2

“tidak mengijinkan lagi kita hidup dengan lebih menoleh ke belakang menurut saluran adat  yang mengikat jiwa manusia”

Yang tidak diijinkan adalah melihat lebih dalam. Perlu adanya penyesuaian antara menoleh kehidupan masa lampau dengan masa modern. Terutama bila sudah berkaitan dengan adat. MUngkin ini tantangan bagi para penganut adat tertentu. Agar kita bisa melihat kedepan, dimana fungsionalitas sangat diperlukan, dan dengan menggunakan budi dan pikiran.

Seringkali orang yang dicap “membangkang” dari masa lalu dianggap tidak berindentitas. Ini bukan masalah identitas, tapi untuk kemajuan kemanusiaan karena memang karena alasan itulah sebuah adat dibuat. Seperti yang ada dikutipan :

“Dan kalau ada sesuatu yang mengikat kita itu hanyalah semata – mata kewajiban dan rasa tanggung jawab kita terhadap kemajuan Kemanusiaan dalam arti sebenar – benarnya”

Namun apakah kita harus kehilangan kebudayaan kita, jawabannya tidak. Mari lihat kutipan berikut ini :

…kita di Indonesia ini harus

…meluaskan…

bukan mengubah

dasar kebudayaan kita

-Sanusi Pane-