Perang padam adalah suatu program yang dicanangkan oleh PLN untuk memerangi pemadaman yang belakangan ini sering terjadi. Disjaya dan tangerang adalah salah satu unit kerja PLN yang bergerak dalam usaha penjualan listrik. Energi listrik yang dijual tersebut, ‘dibeli’ oleh unit distribusi dari P3B melalui gardu induk. Kemudian listrik tersebut dijual ke pelanggan – pelanggan. Dari gardu induk, listrik tersebut dialirkan lewat penyulang – penyulang lewat SUTM maupun SKTM. Di tiap penyulang terdapat gardu – gardu yang terdapat trafo untuk menurunkan tegangan menjadi tegangan rendah yang merupakan tegangan nominal yang dipakai oleh konsumen. Jenis gardu yang lazim dipakai adalah gardu portal dan gardu beton. Gardu portal untuk kawasan perumahan dan gardu beton biasanya untuk industry – industry yang memakai 3 phase.

Padam listrik (atau mati lampu) diartikan sebagai terputusnya aliran listrik dari sumber ke pelanggan. Dalam system distribusi, sumber energy listrik bisa dikatakan berasal dari gardu induk atau tepatnya trafo. Pemadaman listrik yang terjadi bisa dikategorikan menjadi dua. Yaitu, pemadaman terencana dan pemadaman tidak terencana. Pemadaman terencana dikarekan adanya pemeliharaan komponen atau peralatan penyaluran tenaga listrik. Sedangkan pemadaman tidak terencana diakibatkan oleh gangguan.  Pemadaman yang sering terjadi sering kali disebabkan oleh gangguan – gangguan pada penyulang dan gardu – gardu tersebut. Untuk itu perlu dilakukan inspeksi penyulang dan gardu untuk mengetahui kondisi actual dari keduanya. Inspeksi inilah yang dirangkum menjadi suatu kegiatan yaitu perang padam.

Disjaya dan tangerang sebagai salah satu unit bisnis ketenagalistrikan yang berhubungan langsung dengan konsumen mempunyai kewajiban untuk mengurangi gangguan yang menyebabkan pemadaman tersebut. Untuk itu dicanangkan lah program Perang Padam yang intinya adalah memeriksa kondisi actual penyulang – penyulang dan gardu – gardu distribusi. Untuk gardu distribusi, yang diperiksa adalah kondisi fisik trafo, peralatan proteksi seperti cut-out dan arrester serta melakukan pengukuran pembebanan trafo.

Fakta yang terlihat dilapangan cukup mengkhawatirkan, banyak ditemukan trafo yang rembes atau bocor, arrester dan co yang sudah retak dan trafo yang sudah mencapai pembebanan diatas 80%. Kondisi seperti ini sangat rentan untuk terjadi gangguan.  Belum lagi bila melihat banyaknya SUTM yang tersangkut dan tertutup oleh pohon, bahayanya adalah ketika terjadi hujan bisa mengakibatkan short. Pengukuran pembebanan trafo sebenarnya belum menjamin 100% valid, mengingat pembebanan puncak trafo bisa terjadi kapan saja tergantung perilaku konsumen. Hal ini dikarenakan di trafo – trafo distribusi tidak terdapat alat pengukuran beban yang otomatis dan bisa terpantau setiap saat seperti di gardu – gardu induk 150 kV dan 20 kV. Hal ini lah yang menjadi jawaban kenapa di GI lebih jarang terjadi gangguan dibanding gardu – gardu distribusi.

Namun perang padam ini menurut saya program yang sangat tepat dan bagus. Dari program ini bisa diketahui kondisi – kondisi peralatan – peralatan GD. Langkah selanjutnya adalah dilakukan penggantian – penggantian trafo – trafo yang bocor, kemudian penertiban – penertiban pelanggan liar yang diprediksi menjadi penyumbang terbesar kerugian teknik maupun non-teknis di system distribusi.

Go perang padam!! Wujudkan 345-9!!!..

3 jam gangguan dalam satu tahun (SAIDI), 45 respon pengaduan gangguan, dan 9 kali gangguan dalam satu tahun (SAIFI)!!!!

Advertisements