Horeee, akhirnya setelah 10 tahun saya bisa juga pulang kampung!!. Ya 10 tahun lalu adalah 50th anniversary ompung ku dari ibu. Setelah acara itu belum pernah sekalipun saya pulang kampung. 5 tahun di Bandung ternyata berpengaruh besar, tidak bisa ikut pulang kampung bersama keluarga. Pulang kampung kali ini sebenarnya agak dipaksakan, mengingat hanya 3 hari menikmati Medan. Tapi ini adalah janji.

Saya pernah berjanji, begitu saya lulus kuliah dari ITB akan ziarah ke makam ompung dari bapak dan laporan ke ompung dari mama. Namun rencana itu urung terjadi, karena saya harus masuk pelatihan PLN. Tuhanpun punya rencana lain, ompung doli dari mamaku sakit keras. Sebelum masuk pelatihan, saya sempat ngotot untuk datang ke medan untuk menjenguk, namun tidak sempat. Di pelatihan PLN (pusdikpassus), siswa tidak diperkenankan mengaktifkan HP. Setelah beres pelatihan, saya mendapat kabar buruk, beliau sudah meninggal. Begitu mendengar kabar itu, air matapun tidak tertahan lagi. Ya, saya sungguh menyesal tidak sempat bertemu beliau untuk terakhir kalinya. Maafkan pahompumu ini pung, selamat jalan, aku yakin Tuhan Yesus akan sangat gembira menyambutmu di surga.

Penyesalan itu makin membulatkan tekadku untuk pergi ke Medan untuk ziarah kekedua makam ompungku itu. Akhirnya saya berangkat bersama keluarga menuju Medan. Tanggal 24 sore kami sampai Medan. Di bandara kami dijemput oleh uda friski, langsung menuju ke selat panjang. Bakmi pangsit!! Sangat enak!!. Sehabis makan, kami menuju rumah ompung dari bapakku di jalan teladan. Di sana kami menginap satu malam. Menghabiskan waktu dengan makan durian medan, murah tapi enak sekali!!! hahaha

duren murah enak

Pagi harinya (25 desember), jam 5 pagi, kami menuju pangunguran menggunakan mobil, salah satu kabupaten di pulau samosir. Untuk mencapai pangunguran, kami harus menyeberang dengan kapal ferri di pelabuhan parapat. Menurut informasi yang ada, kapal tersebut berangkat jam 9 pagi. Diperjalanan semua terasa lancer, namun sampai dipintu gerbang parapat, mobil kami mengalami masalah. Porslening mobil rusak, tidak bisa naik atau turun gigi. Dipanggilkan orang bengkel setelah jalan beberapa ratus meter. Setelah di cek, ternyata mataharinya rusak, dan diperkirakan baru selesai siang hari. Akhirnya  lewatlah jadwal keberangkatan ferri jam 9.

Ternyata Tuhan punya rencana lain, secara kebetulan tempat rusaknya mobil kami adalah sebuah wisma dimana tulangku adalah manager wisma tersebut. Pertolongan itupun datang, kami diajak pegawai wisma tersebut untuk makan siang dulu di sebuah penginapan yang menyediakan pemandangan yang bagus. Kamipun istirahat sebentar di penginapan tersebut sambil menunggu mobil rental yang telah dipesan oleh tulangku. Akhirnya mobil datang jam 1 siang, dan kami langsung menuju parapat. Kapal ferri selanjutnya baru berangkat jam setengah 3 siang sesuai jadwal, namun karena penumpang sangat ramai, kapal ferri pun berangkat jam 2 siang. Penyeberangan menuju pulau samosir memakan waktu 1 jam, jam 3 sore kami sampai di tomok. Dari tomok kami langsung menuju panguguran. Perjalanan menuju panguguran memakan waktu 1 jam.

Akhirnya sampailah di makam ompung doli. Kuburan orang Batak cukup unik, peti matinya tidak ditanam dalam tanah, namun dimasukkan dalam sebuah bangunan (sepeti gambar dibawah ini). Kami sempatkan untuk bersih-bersih lingkungan sekitar makam. Kemudian berdoa dan cuci muka yang sudah lazim dilakukan saat ziarah. 30 menit kami di tempat itu, kemudian melanjutkan perjalanan menuju sumbul kampung ompungku dari mama.

Perjalanan ke sumbul melewati jalur yang lumayan membuat jantung berdetak kencang. Pertama karena sepanjang jalan yang ditemui adalah tebing dan jurang. Akses jalan yang tersedia pun hanya cukup untuk 2 mobil (baru satu bulan, sebelumnya hanya cukup 1 mobil pas), batu banyak tergeletak di sepanjang jalan hasil dari longsoran tebing dan jalan yang belum diaspal atau di cor beton. Namun dibalik itu, perjalanannya juga menyajikan pemandangan yang indah sekali. Karena kita bisa melihat danau toba dan pulau samosir dari puncak gunung!. Waw!. Danau yang bersih, warna hijau pohon pohon dipadu dengan barisan perahu – perahu yang tersusun rapih.

Sampailah kami dirumah ompung, saya turun pertama. Ditantang sama mama untuk nanya ke ompung, ngetes masih ingat atau tidak.

Robin : “pung, didia do jabu ni ompung sumuang??”

Ompung Boru : “di son, whaaaaahahaha, kawnya itu septa??”

Robin : “iya pung, hahaha”

Ya begitulah ompungku, kalau bisa dibilang aku sangat sedih ketika melihat ompung boruku ini. Mereka tinggal sendiri, sudah tua, ditinggal suami mereka. Namun karena sejak dulu hidup di jaman yang keras, jiwa tangguhnya masih tersisa. Pemandangan yang tersaji di rumah itu adalah ompung dengan perawakannya yang kecil dan membungkuk, kemudian rumahnya yang sunyi, halaman belakang yang luas dan toko jualan mereka. Pemandangan seperti itu mengingatkan aku dengan ompung doliku. Sedih bila mengingat – ingat lagi..

Namanya orangtua kalau anak dan cucunya datang pasti masak. Sama seperti ompung boruku yang di medan, dia juga menyiapkan makanan. Dan hebatnya mereka berdua punya makanan andalan yang berbeda. Opung medan dengan ayam goreng bumbu dan opung sumbul dengan ayam gulenya. MAntap!!!

-to be continued-

 

Advertisements