Awal januari 2015 saya memasuki satu fase hidup yang lain, yang intinya mengharuskan saya tidak berpikir diri sendiri lagi, tidak bisa berpikir kinerja saya harus lebih baik dari yang lain, ya membimbing dan memajukan orang lain. Di tempat ini, dibidang ini, rata – rata umur pegawai adalah 42 tahun dengan 7 orang kelahiran 80an dan 10 diatas umur rata rata.
 

     
 

Melihat komposisi ini artinya jumlah anggota tim ini tidak akan bertahan lama umurnya, tahun ni ada 3 pegawai yang akan pensiun. Saya tidak akan lebih jauh membahas tim ini, yang ingin diceritakan adalah perjalanan hidup 3 pegawai senior ini yang sungguh luar biasa jasanya selama ini untuk perusahaan.

Pengalaman itu mahal harganya. Puluhan tahun sudah mereka dedikasikan hidupnya untuk Perusahaan. Pak juhri, pak madinah dan pak darno, 3 sekawan yang dimana kalao dikantin sering selfie ria untuk tertawa menyongsong penghujung karirnya. Mereka telah mengalami transformasie perusahaan ini beberapa kali, dari petugas cater, tusbung sampai pelaksana perbaikan gangguan(istilah dlu bottom), hingga transformasi pekerjaan PLn dimana pekerjaan distribusi dikontrakkan ke mitra kerja (menjadi pengawas). Mereka bercerits kalau dulu setiap pegawai harus bisa bekerja dilapangan, semua dikerjakan pegawai, makanya tidak heran ilmu – ilmu mengerani pengoperasian material, komponen mereka lebih pengalaman, beda dengan anak2 sekarang atau pengawas – pengawas sekarang. Namun mereka juga mengakui kalau sekarag ilmu dasar mereka lebih jelas tidak serabutan seperti dalu yang hanya berdasarkan “biasa” bukan yang “benar”. Wahh memang tidak salah pernah saya dengan istilah :

“Generasi muda itu seperti orang buta, generasi tua itu seorti orang tuli, yang muda mempunyai pengetahuan dari apa yang sudah didengar dan didapat di sekolah namun kurang mengetahui kondisi real medan pekerjaannya, sedangkan yang tua tahu dan paham medan pekerjaan namun sudah susah untuk mendengar dan menyerap ilmu yang baru”

Bidang ini cukuo beruntung, memiliki generasi tua seperti 3 orang tsb, mereka tidak pelit ilmu, mereka tidak memandang muda itu sebagai saingan justru dengan hati gembira mereka membimbing muda2 di bidang ini. Dipenghujung karis mereka, kami padukan yang muda dengan pekerjaan mereka. Dengan cara ini transfer ilmu berjalan dengan baik. Cara mengoperasikan dan mendeteksi kerusakan, cara mengoreksi pekerjaan mitra kerja sampai ke hal2 yang mengarah ke hubungan “bapak dan anak”..

Pada mei 2015, kami sampai pula untuk melepas salah satu pejuang veteran perang padam PLN, namanya adalah pak juhri. Bapak asli betawi ini masih memiliki perawakan tubuh yang tegap walaupun kerutan di wajahnya tidak bisa ditutupi. Sampai dengan penghujung karirnya, beliau tetap semangat menjalani tugasnya mengawasi pekerjaan, banyak masukan masukan positif yang ia berikan untuk bidang ini kedepannya.

    

  Di hari terakhirnya sebagai pegawai PLN, saya bertanya pada oak juhri, “pak gimana rasanya pak di hari terakhir bekerja ini.?..” Beliau hanya berkata : “puas pak, puluhan tahun di PLN sangat luar biasa yang sudah saya rasakan. Kalau tidak bekerja disini, saya nggak tau akan jadi seperti apa sekarang. Mudah2an PLN merasakannya sama dengan yang sudah saya berikan selama perjalan hidup saya di sini”. Aminn pakk.. Terima kasih pak juhri atas pengorbanannya selama ini, pagi siang malam pagi lama pastinya sudah bapak berikan 100% untuk perusahaan ini. Semoga bapak semakin sehat dan dengan bahagia menjalani fase hidup bapak selanjutnya. Aminnn..

Ayo generasi muda, jangan cepat puas. Tantangan kita mungkin tidak sama dengan yang pernah senior senior rasakan, namun perubahan dalam hidup yang pernah senior kita rasakan pasti akan kita rasakan. Semoga kepuasan yang pak juhri rasakan dapat kita rasakan nantinya. Amin

Advertisements