Selasa 12 April 2011, tidak disangka-sangka kalimat renungan yang saya baca dipagi hari terjadi di malam harinya. Kalimat : “Dalam tiap rutinitas ada kesempatan indah untuk berbuat sesuatu” sampai sore hari masih saya nantikan kebenarannya, kira-kira apa bentuk kesempatan indah tersebut dan apa yang bisa saya perbuat.

Tepat sehabis adzan magrib, saya berangkat dari kantor menuju kosan. Belum jauh dari kantor, saya melihat kerumunan orang banyak sekali sambil berlari kecil berteriak menyuruh saya dan beberapa pengendara lain untuk memutar arah. Yang terlihat oleh saya adalah api yang membara didepan sana. Sontak saya berpikir kebakaran rumah, namun setelah saya tanya ke warga ternyata gardu PLN yang meledak dan terbakar. Mendengar itu saya langsung melapor ke supervisor dan memberitahukan lokasinya sambil saya mendekat ke lokasi gardu berada. Menurut instruksi beliau, padamkan saja dengan air karena listrik setempat sudah dipadamkan (PMT penyulang dikeluarkan). Melihat kerumunan warga, saya meminta bantuan ke warga untuk memadamkan dengan air. Akhirnya dengan meminta air dari masjid, gardu itu padam juga dengan dibantu juga oleh warga setempat dan satu orang Yantek.

Dari sebuah kejadian pasti ada ‘untungnya’, untungnya yang terbakar itu box rak PHBTR, api sempat merambat ke kabel koneksi sekunder trafo dan PHB namun tidak sampai ke trafo. Kalau sampai merambat ke trafo, tentunya akan lebih timbul kepanikan yang lebih dari sebelumnya. Ternyata setelah dianalisis, beban yang ditanggung trafo sudah besar mendekati 100%. Dan parahnya ada 2 buah sambung langsung (bendengan) di salah satu jurusan PHB yang seharusnya digunakan NH fuse sebagai pembatas. Sehingga saat beban puncak terjadi (sehabis magrib), panas berlebih yang diakibatkan beban atau arus tinggi melebihi ketahanan arus yang dimiliki PHB TR tersebut dan terjadilah ledakan. Yang menarik adalah, pekerjaan pemulihan gardu tersebut memakan waktu sangat lama. dari pekerjaan mulai jam 7.30 malam,  listrik baru menyala jam 2 pagi. Sebuah tantangan bagi PLN untuk mempercepat pemulihan gangguan kedepannya. Yang saya lihat, koordinasi antara petugas lapangan, pengawas dan posko, kemudian jumlah dan keahlian rekanan/pekerja kemudian keberadaan material harusnya bisa lebih ditingkatkan kinerjanya sehingga waktu pemulihan bisa dipersingkat.

Selama pekerjaan, masih cukup banyak warga yang melihat sekitar 10 orang, bahkan mendekati jam 2 malam makin banyak lagi yang datang. Mungkin karena jam 2.30 akan ada pertandingan sepakbola. Yang terlihat dari muka mereka dan hasil obrolan saya, adalah mereka sangat mengharapkan listrik segera menyala. Saat listrik menyala terlihat sebuah bentuk ucapan syukur dan kelegaan dari semua pekerja termasuk saya, begitu juga dengan warga sekitar. Inilah sebuah bukti bahwa saya dan teman-teman di PLN tidak boleh main-main dengan listrik atau pekerjaannya. Karena listrik saat ini sudah menjadi kebutuhan primer. Saat listrik itu padam, saat itu masyarakat tidak bisa menikmati ‘family time’ dengan menonton TV atau sekedar makan bersama di ruang makan, bahkan bisa menghambat pemasukan bagi pemilik warung – warung makanan.

Dari kejadian ini saya harus berterima kasih kepada Tuhan, merupakan sebuah anugerah saya bisa mengalami kesempatan seperti ini. Kesempatan indah yang bisa saja saya tidak ambil dengan memutar motor seperti pengendara lainnya dan menjauhi lokasi gardu tersebut. Ternyata ketika kita disibukkan dengan rutinitas, akan datang kesempatan indah untuk berbuat sesuatu. Dan itu merupakan pilihan ketika kita bertemu kesempatan itu, akan kita ambil atau tidak. Namun setiap kesempatan yang kita ambil, ada konsekuensinya. Mengorbankan waktu tidur dan telat keesokan harinya adalah konsekuensi yang harus saya terima :p

Advertisements