Gerah juga melihat pemberitaan di media belakangan ini. Permasalahan datang silih berganti, satu masalah belum terselesaikan muncul lagi masalah yang baru. Hal ini terlihat dengan masih mengambangnya kasus Century, hilangnya berita nasib jemaat di suatu rumah ibadah Bekasi, penanganan atau dugaan teroris kepada Abu BB. Ya kali ini media sedang menyoroti tentang hubungan Indonesia dengan Malaysia. Seperti kita tahu, baru – baru ini ada kasus antara nelayan dan petugas Indonesia dengan Malaysia di perairan yang bahkan sampai saat ini belum jelas. Masyarakat kita tidak bisa menerima penangkapan 3 petugas DKP oleh polisi Malaysia yang menurut kesaksian, mereka diperlakukan selayaknya tahanan disana. Masyarakat juga tidak bisa menerima ketika 3 petugas DKP bebas oleh proses “barter”. Entah bagaimana proses yang sebenarnya, hal ini memancing kemarahan rakyat Indonesia, dan sayangnya kemarahan itu ditunjukkan dengan berbagai tindakan yang menandakan “penyataan perang” seperti membakar bendera Malaysia dan aksi pelemparan tinja. Terang saja tindakan ini memancing kemarahan pihak Malaysia. Bila benar – benar terjadi konfrontasi, apa sih ruginya dan apa sih untungnya bagi keduanya. Masalah kedaulatan memang yang utama, namun mediasi juga diperlukan, toh perang secara terbuka tidak menjamin kedamaian seperti yang dialami Israel dan Palestina.

Lantas, benarkan hubungan Indonesia Malaysia segitu buruknya, bagaimana sih sebenarnya interaksi yang terjalin antara rakyat Indonesia dan Malaysia itu sendiri, apakah mereka saling membenci atau memang hanya segelintir orang yang terlibat dengan kemarahan kedua negara ini?. Yang pasti pemberitaan media akan sangat berpengaruh terhadap mediasi kedua negara ini. Ingatkah kita dengan kasus Manohara? banyak yang berbeda pendapat mengenai kasus ini dan kebenarannya pun masih absurb, namun masyarakat keburu mengambil kesimpulan hal ini merupakan pelecehan terhadap rakyat Indonesia. Atau kasus penyiksaan TKI? awalnya permasalahan kecil, karena tidak diselesaikan segera akhirnya membesar seperti bola salju. Ya maw bagaimanapun akhirnya nanti, semoga hasilnya baik untuk Indonesia (hahaha)..

Yang lebih menarik justru adalah makin banyaknya permalahan negri kita sendiri yang melibatkan sentimen agama. Kebrutalan dan ketidaksabaran ormas kepada umat agama berbeda maupun terhadap pemeluk sesamanya memperlihatkan ada yang salah dengan keberagamaan di Indonesia saat ini. Permasalahan ini sebaiknya segera dibereskan. Karena kalau tidak akan menjadi bola salju seperti halnya hubungan Indonesia dan Malaysia sehingga perpecahan akan terjadi, kestabilan negara akan terancam sehingga akan makin mudah masuknya pengaruh luar lewat “bantuan” mereka. Ya kalau dipikir-pikir, isu agama memang rentan sekali untuk diutak-atik atapun dijadikan alat untuk menimbulkan perpecahan di negara kita hal ini lebih rentan daripada suku. Sebaiknya sekarang dihindari sebisa mungkin pertanyaan-pertanyaan yang menyinggung agama lain, atau pertanyaan yang mengetes keberagamaan seperti, “terganggukah anda dengan suara azdan dari masjid sebelah??” atau ” terganggu tidak saudara dengan kegiatan jemaat di ruko itu??”. Karna pertanyaan-pertanyaan seperti ini sangat sensitif, padahal kuncinya cuma dua, yaitu toleransi dan jalankan agama kita sendiri dengan sebaik-baiknya.

Advertisements