oaalllaaahhh, cuma karena ini toh…huff seringkali, keteledoran melanda. Hal kecil memang kadang – kadang tidak terlihat oleh kita, atau tidak kita sangka – sangka akan terjadi. Kira – kira itulah pelajaran yang sering orang dapatkan, ketika sedang menghadapi masalah dan ternyata solusi dari permasalahan itu mudah sekali karena sumber permasalahan tersebut hanyalah hal kecil. Hal kecil tersebut baru kita sadari di akhir – akhir ketika solusi sudah didapat dan tidak  jarang penyebabnya adalah keteledoran semata.

Pernahkah kita menghadapi permasalahan di pagi hari menjelang berangkat sekolah atau ke kantor, dimana kita kehilangan topi upacara atau dasi. Topi dan dasi mempunyai tempat masing – masing yang berada di dalam rumah kita, namun 2 barang ini seringkali susah untuk ditemukan di pagi hari. Tidak heran, hilangnya dua benda ini bisa membuat wajah kita musam di pagi hari bahkan bisa telat sampai tujuan. Namun ketika ditemukan, ternyata topi berada di tas sekolah karena lupa dikeluarkan sejak minggu sebelumnya, atau dasi masih ada di mobil. Ya, keteledoran kecil bisa mengakibatkan masalah yang terkadang berada dalam skala besar.

Contoh diatas adalah realita pribadi yang sering terjadi. Bagaimana dengan realita yang terjadi di masyarakat terkait dengan keteledoran ini. Tidak bisa dipungkiri, saat ini kita terus-menerus disuguhi berbagai macam berita mengenai Indonesia bahkan dunia internasional yang tidak menyenangkan. Di Indonesia ada ancaman bom gas elpiji, perampokan bank dan toko,  terorisme, konflik agama dll. Dunia internasional datang dengan berita banjir yang melanda china dan pakistan yang sudah menelan beribu korban meninggal, kemudian iklim terpanas yang dirasakan warga moskow, Rusia, bahkan ada lagi permasalahan 3 anggota DKP “ditukar” dengan 7 nelayan malaysia. Huff, semuanya tentu adalah sebuah permasalahan yang sudah masuk taraf mengkhawatirkan.

Kalau bisa diambil sebuah persamaan, semua permasalahan diatas mempunyai irisan yang sama yaitu manusia. Manusia sejak awak diciptakan merupakan pusat dari segala fenomena fisik maupun sosial yang ada di muka bumi ini. Namun kalau saya boleh mengandai-andai, peran manusia hanyalah sebagai eksekutif, ada sebuah “lembaga” tinggi, yang esa yaitu Tuhan. Manusia dalam hal ini menjalani perannya dengan berelasi atau menjalin hubungan dengan alam, manusia itu sendiri dan sesamanya , dan juga kepada Tuhan. Untuk itu, manusia mempunyai tanggung jawab, wewenang dan peran masing – masing yang diberikan oleh Tuhan untuk berelasi dan hidup bersosial dengan alam, manusia dan Tuhan. Ketika manusia gagal menjalaninya hal itu adalah akibat keteledoran manusia dalam menjalankan tanggung jawab, wewenang dan peran mereka masing-masing.

Kalau ingin di kelompokkan, bom gas elpiji, perampokan bank dan toko, dan permasalahan 3 anggota DKP “ditukar” dengan 7 nelayan malaysia merupakan keteledoran manusia dalam menjalin relasi dengan diri sendiri dan manusia sesamanya. Kemudian, banjir China, Pakistan dan iklim panas Moskow merupakan keteledoran manusia dalam menjalin hubungan dengan alam. Dan terakhir, kasus terorisme dan konflik agama adalah keteledoran manusia dalam mejalin hubungan dengan Tuhan. Dan ketiga kelompok ini berpusat kepada manusia, manusia yang gagal dalam menjalin hubungan baik dengan ketiga unsur tersebut : alam, manusia dan Tuhan.

Tetapi hal inipun sedikit membantu dalam mencari solusi permasalahan. Manusia itu sendirilah yang harusnya menjadi solusi. Karena manusia adalah pusat dari 3 relasi yang terjalin, maka ketika pusatnya adalah sebuah solusi kemungkinan besar relasi yang terjalin akan menghasilkan solusi atas permasalahan yang ada. Untuk memperbaiki hubungan manusia dengan alam, manusia bisa mulai dari hal-hal kecil seperti membuang sampah pada tempatnya, atau bisa saja menjadi aktivis lingkungan tanpa pamrih yang mau melakukan suatu pekerjaan lingkungan tanpa paksaan dan imbalan apapun.

Hubungan manusia dan Tuhan sebenarnya sudah disusun sangat teratur dan jelas oleh agama yang dipeluk oleh masing-masing individu. Namun seringkali pengertian manusia satu dan yang lainnya berbeda mengenai ajaran agama yang ada. Kuncinya hanya satu, perdalam iman dan kepercayaan masing – masing dan hormati pemeluk agama lain dalam menjalankan dan mengamalkan nilai – nilai agama mereka. Bentrok antar agama dan kasus terorisme adalah suatu bentuk dari rusaknya relasi manusia dengan Tuhan ketika manusia tidak mampu mengamalkan nilai-nilai agama yang mereka anut dengan benar dan bertanggung jawab.

Hubungan manusia dengan diri sendiri dan sesama adalah sesuatu yang sangat sulit. Manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Sifat tamak, haus kekuasaan, mata duitan, emosi berlebih adalah contoh – contoh sifat manusia yang tidak mampu berdamai dengan dirinya sendiri. Manusia dirasuki oleh nafsu duniawi yang membuat kita lupa akan tanggung jawab yang diberikan dalam pekerjaan ataupun perkuliahan. Kesalahan prosedur pekerjaan yang disengaja, produksi barang yang asal-asalan demi mendapatkan keuntungan lebih adalah contoh bagaimana ketamakan manusia mengambil alih profesionalitas dalam bekerja. Ketika kita tidak bisa berdamai dengan diri sendiri, otomatis hubungan manusia dengan sesamanya akan menjadi buruk. Kehilangan Kasih terhadap sesama adalah suatu jawaban mengenai kenapa banyak bentrok yang terjadi antar sesama manusia. Bentrok boleh terjadi, namun hanya bentrok ide dan pikiran yang diperbolehkan karena itulah yang akan memajukan kehidupan manusia.

Mari kita mulai berpikir selangkah demi selangkah, jangan terlalu terburu-buru menyalahkan orang lain atau langsung cuek saja dengan permasalahan yang ada. Orang yang cuek dengan permasalahan adalah orang yang tidak bersyukur diberkahi kemampuan berpikir, Orang yang memilih menuduh adalah orang yang tidak yakin dengan apa yang dipikirkannya dan Orang yang memilih menjadi perubahan adalah orang yang yakin dengan apa yang dipikirkannya.

Manusia yang memecahkan gelas dan kalau tidak hati – hati manusia jugalah yang akan tersakiti akibat menginjak pecahan gelas tersebut

Advertisements