Huff,, 2005 ke 2010. 2005 tahun dimana saya memasuki fasa hidup sebagai seorang mahasiswa. Status yang saat SMA saya pandang hanya sebuah status belaka. Tidak akan ada yang istimewa darinya dibanding status sebelumnya sebagai siswa. Dulu saya seperti terpaksa berprinsip, kemana angin berhembus kemana arus mengalir kesitulah saya mengarah. Ternyata memang ada sebuah makna dari status mahasiswa tersebut, makna yang langsung meruntuhkan prinsip saya sebelumnya.

Ya, pada fasa inilah sebenarnya saya merasakan sekali sebuah gejolak yang terus menerus merusak atau mendobrak berbagai macam ideologi, kepercayaan, dan segala perilaku-perilaku. Masa – masa dimana sya merasa jumawa dengan apa yang sudah saya kuasai, miliki kemudian harus hancur begitu saja. Masa – masa dimana menemukan kesulitan luar biasa mengikuti betapa cepatnya dan ketatnya persaingan antar mahasiswa baik dibidang akademis maupun kehidupan bersosial. Masa-masa dimana diberi kepercayaan memegang tanggung jawab lebih dibanding orang lain, yang akhirnya membuat saya menyetujui bahwa manajemen waktu dan manajemen konflik adalah hal yang paling sulit. Masa-masa kehilangan kepercayaan diri yang akhirnya menggelitik saya dan membuat saya kembali menikmati hubungan personal dengan sang Maha Kuasa. Kesemua masa-masa tadi bisa ditarik garis penghubung antara mereka. Garis penghubung itu bernama Semangat dan Sahabat.

Dua S, double S, duo S, duet S, ya terserah mau disebut apa. Yang pasti kedua kata inilah yang sangat membekas dalam kehidupan saya.  Sudah banyak perjalanan atau pekerjaan dalam 5 tahun ini yang dikerjakan dengan dasar semangat. Ya cukup itu saja, sisanya kemampuan dan keterampilan adalah sesuatu yang bisa dilatih. Namun semangat tidak bisa atau mudah begitu saja didapatkan. Lantas apa yang membuat semangat menjadi mudah didapat dan muncul setiap kali kita membutuhkan. Ya itulah sahabat, kata semangat akan sangat bermakna ketika yang mengucapkan adalah sahabat. Mengapa perlu sahabat, apa beda sahabat saat siswa dan mahasiswa. Sebenarnya kita tidak perlu membedakan-bedakannya. Sahabat tetaplah sahabat, entah kita mendapatkannya dimna. Memang mungkin saat ini, sahabat mahasiswa lah yang sudah sangat-sangat mengerti diri kita saat ini dan dikemudian hari. Hal ini saya perkirakan, karena mahasiswa adalah saatnya memupuk jati diri, cita-cita yang matang dan melatih integritas saya dikemudian hari bila sudah lulus. Oleh karena itu Saya berpendapat, binalah dan peliharalah persahatan yang bermanfaat dan saling mendukung saat ini dan dikemudian hari. Bermodalkan semangat dan sahabat, inilah yang selalu menghiasi kehidupan saya dalam 5 tahun ini. Hingga sampai ujung fasa inipun saya masih mengamini, inilah pelajaran paling berharga.

Diujung fasa mahasiswa ini, saya merasa bersyukur ketika kembali mengingat-ingat masa lalu, fasa 5 tahun ini. Cucuran keringat, air mata, tawa kegembiraan pernah dirasakan. Cacian, pujian pernah mengisi fasa hidup ini. Sekarang saatnya lah, membuktikan semua itu tidaklah sempurna tanpa sebuah penutup yang manis. Tugas Akhir adalah mega proyek  dari seorang mahasiswa S1. Mau seberat apapun, tidak semengerti apapun ini harus diselesaikan. Amin,semoga penutup salah satu fasa kehidupan saya ini bisa berakhir manis dan modal semangat dan sahabat adalah resep paling jitu.

Advertisements