Perjalanan panjang ini membuat aku sadar, bahwa hidup itu mempunyai suatu tujuan. Tujuan lah yang menjadi alasan, kenapa aku dilahirkan ke dunia.

Setiap manusia dilahirkan berbeda, mempunyai “properties” mereka masing – masing. Lahir dari orangtua rukun dan kaya, lahir dari orangtua tidak rukun tapi kaya, lahir dari orangtua rukun tidak kaya atau lahir dari orang tua tidak rukun tidak kaya. Takdir kah itu semua, ataukah itu sebuah hukuman atau hadiah akibat kehidupan kita sebelumnya? Tuhanlah yang tahu.

Setiap manusia diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya, diberi kebebasan untuk memilih jadi manusia yang bebas atau terikat. Terikat dengan segala kelebihannya, atau bebas dari apa yang menjadi kelebihanya. Ini sebuah proses, bukan ada sejak kita ada di dunia. Seiring dengan berjalannya waktu, bebas atau terikat.

Setiap manusia bebas menentukan sarana untuk bertemu dengan Tuhannya. Mempunyai relasi yang kuat dengan Dia, mencari tujuan hidup dengan petunjukNya. Pengalaman spiritualitas menjadi suatu perjalanan untuk mencapai itu. Berbuat baik, memperlihatkan kelakuan dan moral yang baik. Benarkah itu semua untuk memuliakan Tuhan, atau itu hanya angan – angan manusia yang ingin menjad seperti Dia?

Manusia akan berbagi lewat kelebihannya, manusia akan berkembang lewat kekurangannya. Tujuan hidup di observasi sepanjang hidupnya. Tidak jarang pula manusia susah atau tidak dapat menemukan apa tujuan hidupnya. Apakah sebuah keberuntungan bila manusia bisa menemukannya. Orang bilang kekurangan membatasi kita untuk itu. Namun tidak jarang pula, dengan berangkat dari kekurangannya dia bisa menemukan tujuan hidupnya. Lalu mana yang benar dan baik, tujuan hidup menggunakan kelebihan atau menggunakan kekurangan?

Ada seorang muda, yang diberkahi dengan kecerdasa yang luar biasa. Dia mempunyai sebuah cita – cita yang agung demi perkembangan ilmu pengetahuan. Dia sangat disayang oleh orang tuanya, entah bagaimana bila dia seorang yang bodoh. Sialnya ia mendapatkan tumor otak pada umur 15 tahun. Tumor ganas yang akan terus tumbuh. Keberuntungan atau kesialan? Sampai pada akhirnya ia bertanya, “buat apa aku dilahirkan bila keadaanya begini. masih banyak orang lain yang tidak punya cita – cita seperti saya, mengapa harus saya yang mengalaminya?” Sebuah pertanyaan yang yang hanya dialah yang tahu. Mendapatkan perawatan yang ekstra dan penuh perhatian dari keluarganya, yang terus memberi kata – kata semangat, hanya sebuah kata – kata pemanis belaka. Penyakit itulah yang membuat ia merasakan  betul cinta kasih keluarganya. Penyakit itulah yang membuat ia sadar, bahwa selama ini ia belum mengenal betul keluarganya. Lalu bagaimana dengan pertanyaanya? benarkah alasan mengapa ia dilahirkan adalah Untuk mencintai dan dicintai keluarganya??

Sekali lagi, itu semua kembali ke diri masing – masing. Manusia bebas menentukan tujuan hidupnya, alasan mengapa dia dilahirkan. Jangan terikat dengan kelebihan, dan jangan menyesal dengan kekurangan. Temukan itu semua dalam perjalanan kehidupan ini, mari berdiam diri sejenak untuk menyelami spiritual kita dan cari secara seksama apa yang menjadi penghubung perjalanan kehidupan kita sebelumnya. Rubahlah apa yang masih bisa rubah, dan rancanglah apa yang ada didepan. Berikan suatu makna tersendiri akan hidup dan temukan apa tujuan hidup kita.

-sebuah refleksi diri *terima kasih untuk sirius-

Advertisements