Sungguh nikmat menjadi seorang suporter. Mengidolai sebuah atau lebih dari satu tim. Menyemangati para pemain demi sebuah kepuasan psikologis. Bernyanyi, berteriak mendukung dalam situasi apapun menang atau kalah. Ya, saya salah satu suporter SS. LAZIO, tim yang mencatatkan 2 kali juara Seri-A tahun 1974 dan 2000. Rasa greget, penantian panjang akan gelar juara menjadikan ujian sesungguhnya bagi sebuh suporter. Banyak yang kabur mendukung tim lain ketika tim kesayangannya mengalami penurunan prestasi. MEREKA BUKAN SUPORTER TAPI PENONTON!!..

Suasana meraih gelar juara sudah lama tidak dialami oleh segenap tim dan suporter LAZIO. Dahaga akan gelar juara, tawa senyum meriah karena suatu gelar juara. Suatu kepuasan sangat luar biasa saat mengalaminya. Sungguh sangat permainan psikologi yang fluktuatif jika kita menjadi supoter. Menang, kalah sangatlah kontradiktif efeknya bagi seorang suporter. Mungkin hanya tetes air mata yang bisa menjadi persamaan keduanya. Rasa terharu akan sebuah kemenangan dramatis dan rasa penyesalan ketika mengalami kekalahan.

20

Ya, tahun ini saya kembali merasakan suasana tersebut. LAZIO meraih COPPA ITALY!! Sudah 5 tahun lamanya Laziale tidak berpesta. Sang penguasa kehidupan sepertinya ingin para Laziale mensetujui bahwa 5 tahun itu tidak akan percuma dalam proses perkembangan klub. Rasa senang,khawatir menjadi bumbu – bumbu pertandingan. Sampai akhirnya muncullah pahlawan – pahlawan dalam drama adu penalti yang sangat menegangkan. Piala itu akhirnya berhasil direbut.

Bukan dengan alasan ingin pamer, atau rasa jumawa yang ingin dibangun dalam menjadi seorang suporter.Tapi kesetiaan, kepuasan psikologis lah yang menjadi incaran. Ini memang masih taraf kecil, namun bisa menjadi suatu simulasi untuk menunjukkan rasa kesetiaan seseorang nantinya. Entah bagi sahabat, keluarga, atau bagi bangsanya.

Advertisements