Hampir 4 tahun sudah kehidupan saya di bandung jadi mahasiswa ITB. Elektro lagi, bagai pisau yang mempunyai 2 sisi, tumpul dan tajam. Bila saya memegang yang tumpul tidak akan membuat tangan terluka, tapi kalau sisi yang tajam akan membuat terluka. Tidak terluka, bisa dibilang saya menggunakan pisau dengan benar, penuh dengan kesadaran dalam mengimplementasikan status saya sebagai mahasiswa, yaitu belajar, bersosialisasi dan tidak mensia-siakan waktunya. Terluka bila kita tidak sadar. Butuh parameter – parameter logis untuk menilai apakah saya terluka atau tidak, berdarah atau tidak.

Berawal dari sikap saya ketika diterima di ITB, bangga atau sampai membuat saya jumawa. Bangga membuat saya termotivasi untuk mendapatkan lebih, jumawa membuat saya lengah.
Kelengahan membuat saya tidak membuat sesuatu yang indah, dengan cara yang lebih baik dan lebih baik lagi. Prioritas – prioritas yang saya buat kadang – kadang hanya jadi pemanis awal tahun atau awal semester tidak berakhir indah layaknya seorang superstar mengakhiri konser tunggalnya. Mencoba untuk konsisten itu susah, kestabilan susah dicapai, perlu sebuah usaha – usaha agar prioritas yang dibuat bisa menghasilkan sesuatu yang optimal. Mungkinkah hal ini bisa dijadikan parameter?

Kadang semua berjalan tidak sesuai dengan keinginan karena suatu penghalang ditengah jalan yang saya buat sendiri atau jalan yang rusak yang diluar kendali saya. Pengahalang yang tidak bisa saya prediksi datangnya kapan membuat hasil yang dicapai tidak akan sama untuk setiap percobaan, tidak presisi. Namun tidak ada akan ada pembelajarannya bila saya menimpalkan kesalahan ke orang lain, hanya sayalah yang bertanggung jawab atas semuanya. Seberapa mampu dan seberapa sering saya mengambil pelajaran hidup, menurut orang merupakan ukuran kesuksesan seseorang. Namun sebuah sistem yang tidak presisi akan segera ditinggalkan atau direvisi karena hanya akan mendatangkan kerugian yang besar untuk memperbaiki sistem tersebut. Mungkinkah hal ini bisa dijadikan parameter?

Ini hanyalah sebuah refleksi hidup saya selama 4 tahun ini. Sepotong dua potong sangatlah bermanfaat bagi saya, apakah membuat tangan saya berdarahatau tidak. Namun bagi saya, parameter apapun yang kita pakai itu adalah pilihan. Yang pasti kehidupan manusia itu singkat sama dengan kunang – kunang. Kunang – kunang akan selalu memberikan kesan yang indah bagi yang melihatnya saat perpisahannya. Sama dengan kehidupan saya sebagai mahasiswa ITB, singkat dan ingin diakhiri dengan perpisahan yang indah dari saya untuk orang – orang yang memperhatikan saya.

Lalu bagaimana dengan teman – teman?

Advertisements