Teng teng teng teng teng, suara khas untuk  memulai jam pelajaran. Dimulai dengan ucapan pagiku kepada puluhan wajah ceria dan senyum mengembang dari murid – muridku yang akan beranjak dewasa. Hari ini merupakan hari pertamaku mengajar. Kebetulan Aku mendapatkan kesempatan mengajar di sekolah yang mempunyai reputasi bagus dalam hal prestasi. Banyak dari murid sekolah ini yang dikirimkan ke penyisihan olimpiade untuk mewakili provinsi ini, provinsi paling pesat kemajuannya dibanding provinsi lainnya. Bagaimana tidak, pusat pemerintahan, industri, bisnis, pendidikan sampai tempat hura – hura ada disini. Aku adalah seorang lulusan Perguruan Tinggi yang lumayan terkenal, setelah menjalani proses pendidikan yang lebih tinggi dan kemudian bekerja akhirnya tercapai juga cita – cita tertinggiku yaitu menjadi seorang guru. Karena Aku mempunyai reputasi yang bagus setelah menjalani pendidikan guru, Aku langsung diserahi tanggung jawab untuk menjadi wali untuk kelas ini, kelas XI IPA 1. Seminggu belakangan waktuku habis untuk membaca profil dari murid – murid kelas ini. Mereka berasal dari latar belakang berbeda – beda, dan mempunyai prestasi bagus di kelas X.

Aku : “Selamat pagi anak – anak”

Murid : “Selamat pagi pak”

Aku : “kenalkan nama saya Pak Hilman. Saya adalah wali kelas kalian. Saya mengajar pelajaran Fisika, tentunya bagi kalian Fisika mudah bukan?”

Aku :” Ok, untuk satu jam yang singkat ini Saya tidak akan mengajar dulu, yang ingin Saya lakukan hari ini adalah, berdiskusi dengan kalian semua. Sebelum Saya , coba salah satu dari kalian bicara, apa arti sekolah bagi kalian?”

Ratna : “Saya pak, sebenarnya saya bingung dengan pertanyaan ini. Yang saya bisa katakan, sekolah itu tempat kita mencari ilmu,karena kita butuh ilmu maka kita harus sekolah.”

Kiki : “Saya pak, sekolah itu rutinitas hidup. Bangun pagi, berangkat ke sekolah, mendengarkan guru mengajar, mengerjakan tugas dan ujian dan mendapatkan nilai bagus dan akhirnya naik kelas ke jenjang lebih tinggi lagi.”

Daniel : “Saya pak, sekolah itu menjamin kehidupan yang lebih baik dan layak. Layak seperti apa, ya mendapatkan pekerjaan yang bagus dan mapan akhirnya bisa menjadi “orang””

Aku : “Baik – baik, saya senang dengan keberanian kalian berbicara. Saya yakin itu jawaban jujur dari kalian semua dan itulah diri kalian sebenarnya. Ratna, saya senang dengan kata ilmu yang kamu lontarkan, namun apa itu ilmu, ilmu apa yang harus dipunyai seorang manusia, apakah semua orang harus punya ilmu fisika, matematika, biologi, kimia, atau mmm ilmu gaib?”

(hahahahaha….)

Ratna : “mmm apa ya pa,ilmu itu kompetensi yang kita kuasai, ilmu itu banyak, namun tidak semua harus kita kuasai, tapi sejujurnya saya tidak mengerti pak ilmu apa yang harus manusia miliki.”

Aku : “Begini Ratna, ilmu itu buah pikiran kita, pikiran itu ditentukan oleh kita sendiri, dan ada proses pematangan dalam perjalanan hidup kita, satu kata, belajar. Sehebat apa ilmu seseorang hanya ditentukan oleh pemikiran kita dan seberapa besar niat atau kemauan kita belajar lebih dan lebih. Ilmu itu tidak terikat oleh konten sebuah pelajaran, baik fisika, biologi, atau matematika. Untuk Kiki dan Daniel, sayang sekali kalau kalian menganggap sekolah seperti itu, dibalik sebuah rutinitas pasti ada manfaatnya namun ada juga kesia-siaannya. Apakah kerelaan bangun pagi, mengerjakan tugas/ujian, mendapatkan nilai bagus, naik kelas bisa menjamin datangnya kehidupan yang lebih baik?, jawabannya ya bila kita sadar dan sepenuh hati melakukannya. Sebuah rutinitas yang kita jalankan dengan tidak sadar dan tidak sepenuh hati hanya akan mendatangkan kesia- siaan. Sekolah itu harusnya jadi tempat manusia mematangkan pikirannya, memberikan ilmu agar murid – muridnya bisa memperoleh dan menentukan jalan hidupnya sendiri, bisa membentuk manusia yang mempunyai jiwa kemanusiaan yang besar, berkarakter kuat dan punya kemampuan bersosialisasi yang baik. Realita saat ini, rutinitas sekolah hanya mendatangkan kejenuhan, sekolah hanya dianggap sebuah jenjang untuk mencapai kehidupan yang layak, kaya dan bahagia, membentuk pribadi yang individualis. Proses pembentukan karakter, mengenal sesama, peduli keadaan sekitar belum menjadi target dalam kurikulum pendidikan. Sekolah saat ini berlomba – lomba membentuk murid – murid dan lulusan yang unggul demi kepentingan nama besar sekolah. Inilah yang menjadi alasan, mengapa sekolah bisa mahal dan rendahnya kualitas pendidikan dan akhirnya menyebabkan bangsa kita terpuruk.”

Bagus : Pak, inilah yang saya harapkan selama ini. Mendapatkan pelajaran kehidupan bukan text book yang hanya membuat saya tenggelam dalam kepuasan bahwa saya hebat telah bisa menjawab soal dan memperoleh nilai bagus. Padahal seperti Bapak bilang, ilmu itu tidak terikat oleh konten pelajaran, yang harus dikejar adalah proses pematangan pikiran sehingga saya bisa memperoleh ilmu yang berguna bagi kehidupan saya cita – citakan. Banyak ilmu selain matematika, fisika atau lainnya yang harus saya miliki agar saya bisa menjadi manusia utuh, berkualitas, berkarakter dan bisa bersosialisasi dengan sekitar. “

Aku : “Baiklah, Saya benar – benar bangga dengan kalian. Diskusi kita hentikan saja dulu. hasil obrolan kita kali ini silahkan kalian pkirkan baik – baik. Luangkan lah waktu lebih banyak lagi untuk merenungi kehidupan kalian selama ini, tentukan sendiri jalan hidup dan cita – cita kalian. Bila kalian benar – benar dengan tulus melakukannya, Saya yakin kalian akan menjadi manusia yang seperti Bagus ungkapkan. Oke untuk saat ini sekian saja petemuan saat ini, mmm oh iya Saya lupa akan salah satu rutinitas saat hari pertama mengajar, yaitu perkenalan diri tiap murid.”

(hahahahahaha…..)

Wah senangnya, hari ini adalah hari yang Aku banggakan dan impi – impikan. 25 tahun yang lalu saat Aku menjalani proses pendidikan S1, Aku berangan – angan tentang INDONESIA 25 TAHUN MENDATANG. Pemikiran ini dilatarbelakangi dengan kenyataan buruknya kondisi kesadaran akademis di lingkupan pendidikan negeriku saat itu. Aku ingin Indonesia mempunyai pendidikan, dimana guru tidak hanya mengajarkan isi pelajaran atau text book istilahnya, namun guru yang mampu mengarahkan murid – muridnya untuk menjadi manusia yang seutuhnya dan terjadinya lingkaran diskusi yang membangun dalam kelas. Karena menurutku inilah bentuk ideal dari sebuah proses pendidikan dimana terbentuknya suatu kesadaran akademis dalam lingkungan pendidikan. Dan Aku berharap bisa ikut berperan untuk Bangsa dengan mencetak MANUSIA INDONESIA yang berkualitas, penuh dengan ide, gagasan dan siap untuk mengabdi membangun bangsanya, Bangsa Indonesia.

Better future for me, you and our country.

Advertisements