Awan mendung pertanda akan turunya titik – titik air menyambut keluarnya Frank dari pintu kerjanya di daerah Kelapa Gading, ya Frank adalah seorang konsultan di bidang ketenaga listrikan yang sukses. Perusahaanya mengembangkan diri dalam bidang pembangkitan tenaga listrik. Frank adalah salah satu orang hebat dan beruntung karena cita – citanya sejak kecil bisa menjadi kenyataan. Saat menuju mobil BMW mewahnya, iya teringat saat iya diantar oleh Ayahnya menuju ke sekolah dengan menggunakan sepeda ontel sambil menikmati setumpuk roti tawar berisi mentega dan gula buatan Ibunya, satu – satunya barang yang dibangga – banggakan oleh Ayahnya. Rasa haru pun keluar dari seluk beluk batinya. Dalam perjalanan, terbesitlah pikiran untuk mengajak keluargnya mengunjungi Ayahnya di daerah Bekasi. Dihubungilah keluarganya drumah untuk siap2.

Sampailah mereka di rumah Ayahnya. Sedikit gambaran, rumah Ayahnya berada di daerah dekat dengan persawahan, tapi itu dulu kita sudah mulai banyak bangunan – bangunan yang mengurangi daerah resapan air hujan. Ayah dan Ibunya senang sekali ketika Frank datang, apalagi mereka bisa bertemu kembali dengan menantu dan cucu mereka. Frank senang sekali melihat raut muka bahagia dimuka orang tuanya. Makan malam dengan menu yang sederhana namun penuh nostalgia menjadi acara mereka selanjutnya. Setelah itu Ayah Frank memulai perbincangan setelah meja makan selesai dibersihkan.

Ayah : “Nak, ayah senang dan bangga melihat kamu dan keluarga kamu saat ini. Kamu sudah bisa menjadi kepala keluarga yang baik. Mempunyai istri yang sabar, penuh kelembutan, pandai mendidik cucu Ayah dan sangat sayang sama kamu.”


Frank : “Ya Ayah, Aang (panggilan Frank sejak kecil) sangat bersyukur dengan semua ini. Tapi ini semua berkat didikan Ayah dan Ibu yang telah membrikan saya pelajaran ttg hidup.  Ayah ingat ga, saat Aang jatuh dan menangis ketika belajar naik sepeda ontel punya Ayah. Ayah tidak membantuku berdiri, Ayah cuma bilang “ayo Ang, sampai kapan kamu menangis disitu, cepat berdiri dan coba lagi”. Coba dan coba, sampai akhirnya Ayah membantu dan Aang pun bisa.”

Ayah : “hahahaha (dengan khas tawa orang tua), Kamu pasti kesal ya nak saat itu. Tapi itulah hidup nak, penuh dengan kesulitan dan kamu akan gagal saat kamu sudah berpikir untuk menyerah. Hidup itu harus punya cita – cita, keinginan besar agar kamu bisa teguh dan terus melangkah ke depan. Ayah senang cita – cita kamu tercapai.”

Frank : “Betul yah, Aang merasa bersyukur saat kecil sudah mendapatkan pelajaran – pelajaran berharga dari Ayah dan Ibu. Namun tidak semudah itu yah, Aang mencapai cita – cita itu. Banyak rintangan, sempat terlintas untuk menyerah namun terlintas, gagal itu cuma jalan ditempat bukan berarti tidak bergerak cuma tidak pindah posisi. Saat kita berhenti jlan ditempat seketika itu Aang akan jatuh.”

(Di dapur , Ibu Frank dan istrinya…)

Ibu : “wah kamu tuh harus banyak – banyak bersyukur nak, tidak semua orang seberuntung kamu. Lihat sepupu kamu, orang tua mereka lebih kaya dari kita, dicukupi sejak kecil namun apa akhirnya, anak mereka tidak melanjutkan keberhasilan orang tuanya. anak mereka terlalu dimanja dan akhirnya lupa, bahwa hidupnya ditentukan oleh dirinya sendiri bukan oleh orang tua.”

Istri : “Iya bu, saya mempunyai kekhawatiran sperti itu, Frank itu sangat baik dengan Mikael (anak mereka). Mikael mau apa, pasti diberikan. Saya Sudah bilang ke Frank, dan Frank sadar akan hal itu bisa menjadi tidak baik untuk anak kami. Namun Frank bingung bu, dia tipe orang yang sibuk dan waktunya bisa tiba – tiba terpakai untuk bekerja.”

Ibu : “oh begitu toh nak, kalau begitu peran kamu sebagai istri dan ibu sangat penting. Kamu haru bisa mengingatkan Frank dan membimbing anak kamu. IBu yakin ko nak, kamu pasti bisa. Kamu sudah punya modal yang sangat – sangat besar, kamu itu sayang dengan keluarga kamu. Itu saja sudah cukup.”

Istri : “Makasih bu, tapi saya harus banyak belajar dari Ibu super yang ada disebelah saya ini..”

(senyum terpancar dari kedua wanita penuh kasih sayang ini)..

(kembali ke meja makan)

Ayah : “apa kamu sudah tahu, anak kamu akan menjadi apa kelak, seberapa banyak waktu kamu dengan anak untuk membicarakan hal itu? Itu penting loh nak, anak itu tanggung jawab kita, mereka buah terbesar dari sebuah pernikahan dan kita sebagai orang tua harus bisa memastikan berkat itu menjadi sebuah buah yang matang.”

Frank : “Itulah pak, resiko pekerjaan Aang saat ini. Waktu Aang sangat sedikit untuk itu. Istri Aang sudah mengingatkan tentang ini, dan Aang senang dia bisa mengerti dan mau membantu Aang. Aang sebenarnya tidak mau begini, tapi inilah resiko dari apa yang saya cita – citakan sejak awal.”

Ayah : “Baguslah nak, kalau kamu sudah menyadarinya. sekarang tinggal kamu coba tingkatkan obrolan dengan anak kamu. Ayah yakin ko, istri kamu itu baik dn kalian akan punya anak yang matang dan siap untuk kehidupannya. Ayah saja bisa, kamu juga pasti bisa.”

Setelah selesai berbincang -bincang mereka pun menuju ruang keluarga dan menemui dua orang wanita penuh kasih sayang sedang tertwa – tertawa kecil. Setelah itu mereka semua memutuskan untuk tidur. Frank dan keluarganya menginap diirumah itu. Mikael tidur bersama kakek neneknya.

Frank : ” wah mama dan ibu, tadi membicarakan apa saja, seru sekali tampaknya”

Istri : “hehe,rahasia dong. Itu obrolan khusus ibu – ibu.”

(Senyum pun mengembang dari bibir istrinya, manis sangat manis sekali, mereka lalu berselimut berdua, hangat sangat hangat, menguatkan tekad mereka berdua untuk mematangkan anak mereka)

Advertisements