huff, 1 minggu belakangan ini terasa berjalan lambat sekali. mungkin saja ada yang coba memperlambat putaran roda waktu kali ya..hehehe..

Seminggu ini pendidikan kita sedang mengalami proses evaluasi melalui Ujian Nasional. Puluhan atau ratusan ribu siswa/i mengikuti ujian ini. Setiap tahun selalu saja ada yang harus dikritisi oelh kalangan akademis atau orang tua atau peserta ujian itu sendiri. Dari distribusi soal yang lambat atau salah sasaran, nilai minimum kelulusan dan adanya perdebatan mengenai kelayakan UNAS sbg bagian evaluasi proses pendidikan.

Menarik memang bila mencermati nilai minimum, yang selalu ingin dinaikkan oleh pemerintah. Dibawah ini pernyataan Ketua BSNP dikutip dari Departemen Pendidikan NAsional.

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Mungin Eddy Wibowo dalam jumpa pers, Senin (12/1), mengatakan, peserta ujian nasional (UN) SMP dan SMA dinyatakan lulus jika memiliki nilai rata-rata minimal 5,50 untuk seluruh mata pelajaran yang diujikan. Adapun nilai minimal 4,00 untuk paling banyak dua mata pelajaran dan minimal 4,25 untuk mata pelajaran lainnya. Tahun lalu, standar nilai rata-rata kelulusan 5,25.

Penaikan ini lagi – lagi mendapatkan respon, baik pro dan kontra. Yang pro menganggap kenaikan ini sebagai usaha dalam menaikkan standar pendidikan Indonesia. Tapi cukup aneh, penaikan standar diusahakan lewat hasil, bukan proses??..mmmm. Yang kontra lumayan banyak juga, terutama dari peserta ujian dan orang tua mereka. Keadian terakhir yang cukup menyedihkan, ada seorang siswa yang mengundurkan diri mengikuti UNAS karena takut tidak lulus. Alasannya, terlalu tinggi nilai kelulusannya dan tidak mengikuti bimbel!!!. CKCKCK, apakah bimbel menjadi jaminan mutu lulus UNAS, apa saja memang yang diberikan di sekolah. fenomena bimbel memang menarik apalagi melihat ada bimbel yang menawarkan kelulusan namun harus membayar sekian juta rupiah, yang kadang2 melebihi biaya anak kuliahan.

Ya, nada – nada optimis dan pesimis memang selalu bergulir. Ada yang menganggap kelulusan UNAS adalah sesuatu yang berat, ada pula yang menganggap sebelah mata UNAS dan lebih mempedulikan kelulusan di test perguruan tinggi. Bisa ditebaklah, apa yang membedakan keduanya. Salah satunya dan seharusnya adalah kualitas mutu pendidikan. Tidak merata itu kuncinya, inilah akibatnya kalau pendidikan itu dinilai atau dievaluasi lewat hasil ujian. proses menuju perbaikan mutu lewat proses tidak berjalan. Apakah terganjal oleh biaya, inilah yang mungkin jadi analisis dri pihak terkait. Maka diusahakanlah sekolah gratis, program pembiayaan pendidikan oleh pemerintah untuk sekolah2 SD dan SMA. Namun pendidikan itu bukan hanya hal biaya (SDA), namun kualitas SDM. Penjaminan guru yang berkualitas dan peserta didik yang berakhlak tinggi dan mempunyai semangat belajar yang tinggi. Kedua hal ini juga harus diperhatikan. Maka dari itu peran semua kaum akademis di negri ini harus terus dan terus menyukseskan ini semua. Tidak ada salahnya mencoba, namun ini mungkin kelemahan bangsa kita selama ini, enggan menjalankan program secara serius dan penuh tanggung jawab.

Akhir kata, selamat menjalani UNAS bagi yang melaksanakannya. Dan semoga hasil ini bisa diterima dengan lapang dada dan dipertanggung jawabkan di kemudian hari.

Advertisements