Jhon sungguh beruntung dilahirkan sebagai anak dari keluarga yang kaya, ayahnya mempunyai perusahaan distributor minyak yang sukses tahun itu, tahun dimna negrinya terkesan kaya dan ia menganggap semua saudara selingkungannya merasakan hal sama, hidup itu mudah dan menyenangkan. Semua bisa dilakukan, dan didapatkan dengan mudah dengan hanya sedikit usaha untuk meminta kepada orang tuanya. Dari keperluan materi sampai ketataran biologis. Sampai suatu saat Ayahnya mendapat suatu tawaran untuk mendukung satu calon pemimpin di lingkungannya. Dengan tawaran dipermudah jalannya dalam jadi pengusaha, ayahnya pun setuju. Godaan sungguh datang tidak mengenal jenis orangnya, digelapkan mata dan akal sehat sungguh sangat menggoda. Tak disangka-sangka sang calon terkait kasus korupsi, dan sebagai pendukungnya keluarga john pun kena imbasnya. Perusahaannya pun ditutup dan sejak itu kehidupan jhon berubah 180 derajat.

Disitalah semua harta kekayaan mereka karena terbukti bersalah. Desakan ekonomi dan ketergantungan yang sangat besar dengan kehidupan konsumerisme, membuat kedua orang tua Jhon tidak kuat dan mengalami stres berat yang mengakibatkan meninggalnya kedua orang tua Jhon. Mungkin imbas dari kehidupan modern, keluarga besar sudah tidak mempunyai ikatan yang kuat, tidak ada yang mau menampung Jhon. Pacarnya meninggalkannya karena merasa sudah tidak ada untungnya tetap menjalin hubungan dengan Jhon. Dia pun mulai pusing memikirka hidupnya, dan akhirnya kehidupan jalanan menjadi pilihannya. Dengan menggenggam kalung, Jhon tetap berjalan menaungi hidupnya. Mencari kerjaan, sekecil apapun, mengamen menggunakan botol aqua dengan suara pas2an pun tidak malu dia jalani.
Suatu ketika saat sedang mengamen, ia bertemu dengan seorang tua yang sedang mabuk2an,

pemabuk : ” dik, sapa nama lu?”
jhon : “saya jhon bang”
pemabuk :”nama lu ga pantes jadi pengamen, nama orang kaya itu mah. gw benci orang kaya, gw pernah dipecat dari satpam seorang kaya, karena gw dituduh mencuri suatu malam. Padahal itu karena gw ga maw bungkam kalau udah ngeliat dia menerima suap dari salah satu pejabat, A***ING tuh orang. Mw berapa juta kek, ga maw gw boong.”

Jhon pun mulai mengingat – ingat pemikiran dia dahulu tentang hidup. Sebegitu jahatkah orang kaya.
Menjelang tidur, Jhon terus mengingat2 perkataan pemabuk tadi dan berusaha merefleksikan hidupnya selama ini. Orang kaya mudah digelapkan hatinya, godaannya terlalu kuat.
Esok paginya dia kembali mengamen, menjelang sore uangpun terkumpul lumayan banyak sudah terpikirkan untuk makan mie goreng kesukaannya. Tiba – tiba dijalan, dia dihadang seorang pemuda tanggung dan meminta uang yang dimilikinya

pemuda : “woi mana uang lu, sini kasih ke gw!!”
jhon : “jangan bang, saya maw makan perut saya lapar bang”
pemuda : “ah masa bodo, gw baru dipecat, ga punya uang nih dh seminggu, gw butuh buat makan anak istri gw!!, ah udahlah sini duit lu!!”

Uang jhon pun lenyap, hanya mampu menangis sedu melihat hilangnya kesempatan menikmati mie goreng kesukaannya. Uang selalu jadi sumber kejahatan, tidak mengenal status derajat seseorang. Beralasan untuk kelansungan hidup, apakah parameter hidup hanya uang. Pemikiran2 seperti itu yang selalu terlintas dalam perputaran waktu yang dialaminya.
Tiga tahun setelahnya, jhon telah mendapat suatu berkah yang lumayan besar. Dia diasuh oleh seorang, yang tidak miskin dan tidak kaya juga. Dari keluarga itulah, jhon mendapat ilmu spiritualitas yang sangat berguna dalam mengarungi hidupnya. Jhon sangat bersyukur dengan nasib yang diterimanya saat ini dan sikap suka berhemat dan membantu orang lain menjadi cerminan dri hidupnya kini. Suatu ketika dia bertemu seorang anak kira – kira berumur 10 tahun yang lemas dan dengan wajah kusam berkata

anak: ” pak minta uang pa buat makan, orang tua saya baru meninggal, syaa tidak punya punya keluarga lagi pak”
Jhon : ” dik, adik lihat kaka yang meneteng tas bagus itu yang berlilitkan sebuah jam tangan?”, tunjuk jhon di seberang jalan.
anak ” iya pak, ada apa memang dengan kaka itu?”
Jhon : ” kamu tidak ada bedanya dengan dia, dari luar memang terkesan hidupnya mudah dan sangat nikmat, namun kita tidak akan tahu bila suatu saat dia menjadi pengemis seperti kamu ”
anak : ” lalu?”
jhon : ” yang membedakan adalah, seberapa besar kamu menghargai hidup dan seberapa besar kamu bisa berjuang dalam hidup. Orang yang lemah jiwanya dan terlena kenikmatan akan jatuh kedalam lumpur hisap yang kamu ciptakan sendiri dan itu tidak melihat status derajat seseorang tersebut”
anak : ” ?????, sebenarnya saya tidak mengerti pak, cuma yang saya bisa ambil kesimpulannya, bapak pernah seperti saya dan saya yakin kalau saya pun sanggup menjadi seperti bapak”..

Kisah Jhon banyak terjadi disekitar kita, atau mungkin kita yang mengalaminya?…Segala penderitaan akan datang dan pasti akan pergi berlalu dari hidup kita. Setiap orang pasti punya cara dan kisah yang berbeda – beda, namun pasti hanya satu tujuan, mencari dan membuat kedamaian bagi diri sendiri maupun orang lain.

Advertisements