Dari kecil selalu diberitahukan, Indonesia itu negeri yang kaya, kaya sumber daya alam. Negeri kita terdiri dari banyak pulau, pulau besar dan kecil. negeri kita mempunyai luasan lautan yang besar, banyak gunung – gunung. Tanah yang subur, hutan yang banyak, penjaga kestabilan iklim dunia.

Namun sekarang kekayaan itu jadi senjata makan tuan. Berapa banyak sumber daya alam kita dikeruk, seberapa banyak hutan yang tidak terurus, sungai, danau dan kekayaan sumber daya alam lainnya.

Celakanya, bukan hanya alam yang rusak. eksplotasi alam juga mengakibatkan dampak sosial yang besar. Tentunya sering kita jumpai di berita, bilamana ada suatu daerah, dimana ada sebuah tambang, katakanlah tambang emas. Warga yang dijadikan buruh dibayar mungkin dengan upah yang tidak sepadan dengan kerjanya. Apalagi bila memperhitungkan efek psikologis, bahwa warga sana telah mengeruk tanah dia lahir untuk memenuhi kebutuhan perut. Dan lagi efek penyakit yang timbul, akibat pengolahan limbah yang tidak beres, padahal sudah ada standar, tetapi tidak digubris.

Penambangan dan eksploitasi sumber daya harusnya bisa menaikkan kesejahteraan daerah penambangan. Ini berdasarkan prinsip keadilan. Harusnya, sebuah daerah penghasil tambang, ikan, dan daerah penghasil barang komoditas lainnya, mendapatkan porsi pemasukan yang besar dari hasil keuntungan. Namun yang terjadi tidak begitu, perimbangan antara pendapatan negara dan daerah penghasil tidak berimbang seluruhnya. Hanya di sumber daya pertambangan, tidak halnya dengan sumber daya perikanan atau kelautan.

Rasanya ingin menarik ludah sendiri, bila kita terus mengakui bahwa kita kaya. Ya kaya namun tidak merata, dan lebih condong ke pusat letak kekayaan itu. Dan ironisnya, Sumber daya alam yang kita agung – agungkan merupakan kekayaan kita, malah menjadi senjata makan tuan. Ketika Sumber daya alam yang melimpah bukannya menjadi sumber kesejahteraan kita, malah menjadi kesengsaraan. Sebenarnya punya siapa sumber daya alam yang melimpah ini?..

Namun kita harus akui, sebenarnya kita mempunyai andil akan hal ini. Ketidakmampuan menjaga kelestarian alam, ketidakmampuan membuat kebijakan – kebijakan pengolahan Sumber Daya Alam atau sekedar menyakinkan diri bahwa alam itu penting. Kita seperti tidak tahu alias bingung, harus diapakan sumber daya alam sebanyak ini… perbaikan – perbaikan memang harus banyak dilakukan, sebelum kita kembali yakin untuk mengatakan..

INDONESIA KAYA akan ALAM…

Advertisements