Prioritas bisa ditetapkan dan diucapkan dengan mudahnya. prioritas pertama, kedua, ketiga dan seterusnya merupakan tingkat – tingkat kewajiban yang dibuat. Sebagai manusia yang berada dalam sistem – sistem yang saling berkaitan, memntukan prioritas menjadi kebutuhan utama sebagai pengontrol dan pengevaluasi kehidupan yang dijalankan. Menjalankan prioritas yang telah dibuat memunyai tantangan yang sangat berat dan jangan heran bila prioritas bisa berubah seiring berjalannya waktu. Faktor usia dan lingkungan mempunyai peran penting dalam membuat dan menjalankan prioritas. Seorang pemuda tentunya masih memikirkan kehidupan pribadinya saja, beda dengan seorang yang sudah berkeluarga dan sudah mulai berumur. Seseorang yang berada di lingkungan akademis mempunyai prioritas yang berbeda dengan yang sudah berda di lingkungan kerja.

Resiko dalam membuat prioritas adalah seseorang dituntut konsisten dalam menjalankannya dan bilamana diharuskan merubah prioritas pastilah harus ada yang dikorbankan.

Sebagai manusia pastilah berada dalam suatu sistem utama. Contohnya seorang mahasiswa yang berada dalam sistem akademika. Seorang mahasiswa dituntut untuk belajar demi mempersiapkan kehidupan masa depan. Belajar tidak hanya dibangku perkuliahan, namun ada pembelajaran yang bisa didapat dari beraktivitas dalam organisasi. Mulailah mahasiswa harus menetapkan prioritasnya dan sampai saat ini masih menjadi bahan diskusi yang menarik. Dahulukan akademis atau organisasi. Mulai banyak opini, lulusan ITB tidak hanya dikenal dengan intelektualnya tetapi juga kemampuan interpersonal, manajemen dan hal – hal lain yang digolongkan “softskill”. Ini artinya memang aktivitas akademis dan organisasi sama pentingnya. Ketika dihadapkan pada prioritas mulai muncul perdebatan lebih lanjut, mana yang harusnya didahulukan. Ketika memilih salah satunya menjadi prioritas pertama harus rela bila kita mendapatkan hasil yang tidak maksimal untuk prioritas kedua.

Untuk mencegah kekecewaan yang besar, harus dipastikan setiap prioritas mempunyai target pencapaian masing masing. Dan target itulah yang menjadi parameter keberhasilan. Seringkali pencapaian akhir dalam suatu hal dijadikan penilaian menyeluruh dari serangkain hidup, tanpa melihat dulu prioritas dan usaha – usaha yang telah diperbuat. Hal inilah yang biasanya membuat sisi berorganisasi menjadi tidak sama penting lagi dengan aktivitas akademis di mata kalangan banyak. Kasus ini banyak dijumpai di kehidupan kampus. Rasanya tidak adil ada seseorang yang dinilai gagal karena pencapaian yang jelek di satu hal, meskipun orang tersebut sudah melaksanakan prioritasnya dengan konsisten dan mencapai keberhasilan yang maksimal sesuai dengan target.

Setelah menjalankan, evaluasi prioritas yang telah kita buat. Refleksikan hidup , apakah ada yang salah dengan urutan prioritas , apakah  melenceng dalam menjalankan prioritas, seberapa berhasilkah kita menjalankan hidup  dilihat dari prioritas yang telah dibuat.

Quote by plato : ” hidup yang tidak direfleksikan, bukanlah hidup manusiawi”

Advertisements