Dalam suatu tatanan masyarakat, ada beberapa aspek yang saling berkaitan, politik, ekonomi, budaya dan pendidikan.Tidak bisa dipungkiri informasi saat ini mengambil peran yang sangat penting dalam keberjalanan masing- masing.

Politik adalah usaha dalam rangka memperoleh kekuasaan. Di Indonesia yang memiliki sistem demokrasi ( kerena kita bicara tentang Indonesia), pemilu menjadi media dalam menentukan siapa yang akan memimpin. Setiap calon akan mengirimkan informasi – informasi tentang visi dan kepribadiannya kepada setiap calon pemilih melalui proses kampanye. Kemudian informasi tadi akan diolah oleh seseorang untuk mengeluarkan pilihannya. Oleh karena tentu para calon akan berlomba – lomba untuk memberikan informasi – informasinya ke setiap calon pemilih. Dalam perkembangan saat ini, medianya sangat beragam. Bisa lewat spanduk – spanduk, iklan – iklan dan lain – lain. Ketika masa kampanye, media – media yang mempromosikan sang calon sangat sering kita jumpai, tentunya dengan menyebarkan kata – kata manis dan sangat menggiurkan. Hal seperti ini yang akan tertanam di benak rakyat dalam memilih.

Untuk ekonomi, tentu informasi sangat dibutuhkan, bagaimana bisa seorang produsen memproduksi barang tanpa tahu keinginan pasar, dan bagaimana para konsumen membeli barang tanpa tahu bahwa ada tersedia barang tersebut di pasar. Seperti dalam politik, informasi yang diterima, bisa berakibat buruk bagi salah satu pihak, dan untung bagi pihak lainnya. Ini terlihat dari bergesernya orientasi orang dalam membeli barang dari berdasarkan fungsi alat tersebut menjadi seberapa kerenkah atau seberapa trenkah barang tersebut. Tentu barang yang keren dan sedang ngetren mahal harganya, dan pasti akan memberatkan bagi sang konsumen dan sangat menguntungkan bagi produsen. Denagn kalimat yang kadang – kadang hanya bualan belaka atau ada persyaratan yang tidak disebutkan. Di Indonesia yang dimana kebebasan berekpresi itu sudah dihalalkan membuat pengontrolan terhadap media menjadi berkurang, perang pasar yang tak halal pun makin menjadi – jadi yang malah membodohi masyarakat. Mungkin tidak akan berpengaruh buat warga sang cukup mapan ekonominya, tapi bagaimana bila yang teracuni budaya ini adalah rakyat kecil yang tidak mapan ekonominya, tentu akan sangat merugikan. Penulis pernah melihat berita dimana ada warga yang bunuh diri karena tidak dibelikan playstation oleh orang tuanya. Ini merupakan fenomena yang sangat nyata, bahwa informasi itu bisa berakibat buruk. Apalagi bagi negara kita dimana produksi barang – barang dikuasai oleh pihak asing, yang tentunya duitnya akan mengalir keluar. Akibatnya adalah produsen dalam negri akan terancam karena kalah bersaing, dan tidak heran bila yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Disinilah peran informasi sangat terlihat, dimana barang yang lebih bagus kemasan dalam mempromosikan barangnya akan menang, yang dalam kenyataannya yang menang dalam media adalah pihak luar. Memang sudah banyak barang – barang produksi dalam negeri, namun yang terjadi barang – barang tersebut hanya tiruan tidak ada suatu yang baru dan bahkan lebih parahnya sampai meniru merk – merk luar.

Dunia pendidikan juga begitu, informasi terhadap teknologi yang sedang in di dunia menjadi kita tidak berkembang dari sisi pendidikan. Semua tujuan pendidikan kita hanya menuju dan akan mengekor dengan keinginan dunia yang akhirnya tidak sesuai dengan filosofi pendidikan itu sediri. Dimana pendidikan itu untuk menjawab permasalahan yang terjadi di komunitasnya. Kalau dilihat dari tingkatan SD, pelajaran bahasa inggris lebih ditekankan daripada pelajaran bahasa daerah, tujuannya jelas, sebagai modal untuk bersaing di internasional. Di SMP pelajaran sudah sangat menumpuk, di SMA, penseleksian anak pintar dijadikan landasan dalam penjurusan IPA atau IPS. Di universitas, semua jurusan sangat bermotivasi untuk membuat teknologi – teknologi tinggi dan mengejar prestasi di tingkat di dunia. Tingkat prestasi suatu universitas di dunia sekarang menjadi target dan alasan dalam menentukan baik buruknya suatu universitas. Padalal menurut penulis yang jadi ukuran adalah seberapa dekatnya suatu universitas bagi masyarakat sekitarnya. Ini sesuai dengan tri dharma perguruan tinggi, pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Pendidikan sekarang tidak mencetak intelektual – intelektual yang siap terjun dan berkontribusi di masyarakatnya tapi mahasiswa tidak tahu mau berbuat apa, mungkin punya rasa resah dengan keadaan bangsa, namun tidak tahu mau berbuat apa yang ujung – ujungnya malah memikirkan dirinya sendiri. Kurikulum pendidikan saat ini sangat mendukung tren pendidikan seperti ini. Informasi tentang kemajuan teknologi dan tawaran – tawaran yang menggiurkan, menjadi landasan pendidikan seperti ini.

Terakhir adalah budaya, makin majunya teknologi dan taraf kesejahteraan seseorang melahirkan suatu budaya baru yaitu budaya massa. Budaya ini dianut manusia dimanapun, tidak membedakan status ekonomi, strata sosial, gender dan lain -lain. Salah satu perilaku yang termasuk budaya massa ini adalah perilaku konsumerisme. ironis bila konsumerisme malah dianut oleh suatu komunitas dengan tidak memandang status ekonomi dan strata sosial tadi. dan salah satu pendukung budaya ini tetap eksis adalah informasi.

Dari pemaparan sebelumnya, penulis berpendapat informasi bisa berakibat buruk bagi seseorang dan bahkan bagi suatu negara. Seperti dipaparkan sebelumnya, informasi menjadi landasan berpikir seseorang, semua yang terekam dalam otak akan tervisualisasi kediri masing – masing. Hal ini lah yang menjadi bahaya, ketika informasi – informasi itu mengurung kebebasan berpikir kita, membuat kita tidak bisa berpikir keluar dari kurungan tersebut. Mungkin baik, bila kurungan itu membuat kita jadi lebih baik dan berguna, namun melihat paparan sebelumnya, kurungan ini malah membuat kita mengalami kemunduran bagi diri sendiri maupun bagi bangsa kita. Kurungan inilah yang membuat kita tidak mandiri dalam berpikir.

Advertisements