Kebangkitan nasional??

Kebangkitan nasional selalu diperingati di Indonesia, berdirinya organisasi pemuda yang mapan 20 mei 1908, kemudian dilanjutkan sumpah pemuda 28 oktober 1928 dan akhirnya reformasi 1998. Kesemua peristiwa ini mejadi titik balik perkembangan Indonesia. Angka 8 seakan – akan menjadi angka manis bagi rakyat Indonesia. Satu persamaan dari ketiga peristiwa itu, kesemuanya adalah hasil dari inisiatif para pemuda/i Indonesia dan mahasiswa. Tahun 1908, organisasi budi oetomo mempunyai tujuan mempersatukan rakyat Indonesia yang saat itu sedang merasakan penjajahan yang kejam. Mereka membuat slogan “tanah air Indonesia” yang dibuat saat douwes dekker menajdi ketuanya. Kemudian, sumpah pemuda, yang dinamakan kongres Pemuda II, menghasilkan lagi – lagi slogan. PERTAMA, Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Bertoempah Darah Jang Satoe, Tanah Indonesia. KEDOEA, Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mengakoe Berbangsa Jang Satoe, Bangsa Indonesia. KETIGA, Kami Poetera dan Poeteri Indonesia, Mendjoendjoeng Bahasa Persatoean, Bahasa Indonesia. Pada kongres ini, Bapak M. Yamin berpendapat, ada enam faktor dalam memperkuat persatuan Indonesia, sejarah, bahasa, hukum, adat, pendidikan dan kemauan. Kongres ini juga berpendapat, pentingnya penanaman rasa nasionalisme dan demokrasi (ternyata cita2 mereka ya) dalam dunia pendidikan indonesia. Akhrinya acara ditutup dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya ( yang membuat belanda takut saat itu ), dan memutuskan rumusan itu sebagai sumpah setia. Kemudian 1998, mahasiswa – mahasiswa berdemo menuntut diturunkannya Mantan Presiden alm. Soeharto. Hal ini didukung atas dasar lemahnya kondisi ekonomi Indonesia dan katanya ada tekanan dari pihak luar. Kemudian gerakan 1998 ini menghasilkan suatu masa baru, yaitu masa reformasi. Inilah inti gerakan 1998, selain turunnya diktator Indonesia tentunya.

Bagaimana dengan 2008? Tepat 100 tahun kebangkitan Nasional. Sempat terpikirkan oleh beberapa pihak, tahun ini harus dijadikan titik balik perkembangan Indonesia, tapi dengan apa? Ada beberapa peristiwa menarik sepanjang 2008 sampai saat ini. Dari yang membanggakan sampai yang menyedihkan. Untuk pertama kalinya sejak mantan Pres. alm. Soeharto turun, diadakan acara yang menampilkan semua tarian- tarian dari suku – suku di Indonesia, dan ada atraksi dari barisan tentara – tentara, I’m very happy of that!!. Pilkada di beberapa daerah pertama kalinya dilaksanakan, yang menandakan proses demokrasi di Indonesia mulai meluas, memang ada yang berjalan dengan baik ada yang tidak. Ada juga yang menyedihkan, kenaikan BBM, hal ini lah yang saat ini sedang ramai dibicarakan. Kenaikan BBM, tentu saja menyebabkan kesulitan di rakyat. Seperti biasa, saat rakyat merasa terancam, mahasiswa yang membantu ( polanya selalu gini ). Mahasiswapun menyuarakan keberatan atas kenaikan BBM, maka mahasiswapun berdiskusi dan mengeluarkan gugatan – gugatan, dinamakan TUGU RAKYAT, TUjuh GUgatan Rakyat. Hal inilah yang dibawa oleh mahasiswa dalam berdemo. Namun gugatan tidak tersampaikan dengan baik, yang ada malah runtuhnya semangat persatuan, demokrasi, dan intelektualitas di indonesia, yang telah dibangun pendahulu2 kita. Persatuan, kenapa hilang? Gerakan mahasiswa sekarang tidak terkoordinir, semua jalan sendiri dengan kepentingan, ego sendiri, semua ingin menonjol semua punya jalan sendiri – sendiri. Demokrasi, dalam sistem ini, suara rakyat sangat berperan, begitu juga dengan demontrasi. Tidak seharusnya pemerintah menindak demo mahasiswa dengan polisi secara brutal dan dengan emosi belaka, dan pemerintah seharusnya berani menanggapi secara langsung aksi mahasiwa, kalau memang salah, minta maaf, kalau benar, utarakan alasan secara logis bukan dengan kekerasan para polisi. Begitu juga dengan mahasiswa, seharusnya tidak terpancing dengan tindakan brutal polisi, malah mahasiswa sendri yang akhirnya memulai perkelahian. Membakar ban di jalan, fasilitas umum, menutup jalan, semua menjadi hal yang biasa terlihat dari aksi mahasiswa sekrang. Suatu tindakan yang malah menyusahkan dan meresahkan masyarakat bukannya meringankan beban masyarakat. Intelektualitas, mahasiswa adalah kaum intelek, berpikir ilmiah, rasional, bukan berdasar emosi belaka, aksi sekarang malah memakai emosi, tidak dengan logika. Apa yang terjadi? Bukan Tugu Rakyat yang dibawa, tapi hanya perkelahian. Tugu Rakyat tidak tertanam di masyarakat, padahal yang utama, rakyat mengerti dan setuju dengan Tugu Rakyat, suatu hal yang dibawa mahasiswa. Malah sekarang kalah oleh berita suap di jaksa agung, gema euro 2008 dll. Padahal gerakan demonstrasi idealnya adalah gerakan rakyat yang mengerti dan mau bergerak dengan pikiran sehat. Dan demo – demo tersebut gagal dalam memprovokasi rakyat.

Satu hal yang bisa saya simpulkan dari peristiwa – peristiwa ini adalah, belum dewasanya cara berpikir dan bertindak orang Indonesia, baik pemerintah dan mahasiswa dan rakyat belum mampu menempatkan dirinya di posisi dan fungsi masing – masing. Pemerintah, tanggapan akan kegelisahan rakyat terutama mahasiswa dalam berdemo belum baik, bukan dengan memberantas pendemo, tapi bertemu langsung, berdialog dengan pendemo, saya rasa itu cara terbaik, dan tentu bersikap layaknya negarawan bukan politikus yang seenaknya berpendapat aksi mahasiswa sudah ditunggangi oleh pihak tertentu. Mahasiswa, tidak mampu menyampaikan nilai – nilai yang dibawa ke masyarakat dengan baik, malah menghilangkan sifat intelektualitasnya dengan bertindak di luar logika, yang akhirnya pesan Tugu Rakyat tidak tercapai. Rakyat, tidak mau menyuarakan pendapat akan kegelisahannya dan malah bersikap pasrah.

Ya, 100 tahun kebangkitan nasional diwarnai dengan keterpurukan system kenegaraan kita. Dari kenaikan BBM, demo mahasiswa yang berujung anarkis, kepolisian yang bertindak brutal, nilai pemerintah yang sudah jatuh dimata masyarakat, kasus suap di kejaksaan agung, sampai kejatuhan moral, seperti maraknya film2 indonesia sekarang yang mengumbarkan hawa nafsu. Bukan kebangkitan namanya namun kemunduran.

Apakah seperti ini 100 tahun kebangkitan nasional?Apakah kita tidak bisa menghasilkan sesuatu seperti pahlawan – pahlawan kita dulu?Tugu Rakyat, apakah tidak berarti apa – apa?Apakah rusuh menjadi nilai 100 tahun kebangkitan nasional? Tidak bisakah pemerintah bersikap seperti negarawan?Apakah intelektualitas mahasiswa akan habis?Kapan rakyat Indonesia sadar akan peran dan fungsi besarnya sebagai warga negara?

Advertisements