Tulisan ini merupakan ringkasan dari film dokumenter SICKO yang diproduseri oleh MICHAEL MOORE, seorang amerika yang dalam film – filmnya kerap mengungkapkan fakta-fakta ttg keburukan pemerintahan amerika. Film – film yang sudah dihasilkannya diantaranya Fahrenheit 9/11, Sicko, and Bowling for Columbine.

SICKO..

Film ini mengungkapkan tentang buruknya pelayanan publik di Amerika. Dalam film ini mengkhususkan tentang asuransi kesehatan. Banyak perusahaan2 asuransi kesehatan di Amerika salah satunya Blue Cross and Blue Shield Association. Ada banyak orang Amerika yang tidak mendapatkan asuransi kesehatan. Alasannya bermacam – macam, dan kadang banyak yang tidak masuk akal dengan penolakan yang dilakukan perusahaan itu. Banyak syarat – syarat yang dibutuhkan untuk mendapatkan asuransi kesehatan, dari syarat fisik si penderita, umur, dan bahkan ada syarat penyakit. Dari fisik, orang yang terlalu kurus dan terlalu gemuk tidak diperbolehkan mendapat asuransi, contohnya ada seorang ibu yang ingin mendaftarkan anaknya, namun karena anaknnya terlalu kurus dia pun tidak mendapatkan asuransi itu. Dari umur ada batas umur minimal orang mendapatkan asuransi, contohnya ada seorang wanita yang tidak mendapatkan asuransi karena usianya baru 22 tahun!!. Dalam buku panduan BLUE SHIELD Association ada sekitar 38 halaman ( diurutkan per huruf ) yang tertera daftar – daftar penyakit yang tidak akan mendapatkan asuransi, bahan AIDS, kanker, anemia termasuk dalam daftar itu. Memang kalau dilihat 3 contoh syarat tadi tidak masuk akal. Pelayanannya pun sangat parah, pasien bisa menunggu sampai 1-3 jam baru dilayani.

Setiap perusahaan asuransi mempunyai dokter ahli yang tugasnya memastikan bahwa pengaju asuransi benar – benar menderita penyakit. Setiap kertas kontrak disertai tanda tangan dokter tersebut. Moore lalu mewawancarai salah satu dokter salah satu perusahaan itu, ternyata hasilnya kebanyakan tanda tangan atas nama dokter tersebut dalam kertas kontrak adalah palsu, hanya sebuah cap!!!. Rakyat akhinyapun gerah, sampai akhirnya muncul Hillary Clinton saat suaminya Bill Clinton berkuasa. Ibu itu dengan tegas mengusulkan pelayanan kesehatan menjadi tanggungan pemerintah, tentu hal ini menjadi angin segar bagi orang amerika. Namun apa yang terjadi, senator – senator menolak ide ini. Mereka pun menjalankan aksinya, mempropagandakan rakyat salah satunya dengan mengangkat isu sosialisme, maklum amerika menganut paham kapitalisme dan mempunyai sejarah suram dengan namanya sosialisme. Dan senjata terakhirnya Hillary Clinton pun disogok, dengan naiknya dia menjadi senator bahkan menjadi orang kedua berpendapatan terbesar dalam dunia kesehatan bahkan congress pun disogokn oleh CEO – CEO perusahaan – perusahaan asuransi. Aneh memang tapi memang begitu keadaannya, orang seperti Hillary Clinton pun akhirnya menyerah kepada uang.

Kemudian Moore mencoba pergi ke Inggris tepatnay di London. Di sana ada perusahaan pemerintah bernama NHS (National Health Service) yang menyediakan pelayanan kesehatan bagi rakyatnya. Moore lalu pergi ke sebuah apotik, ternyata harga obat semua sama, apapun jenis penyakitnya yaitu hanya sebesar 10 dolar dan tidak berpengaruh berapapun jumlahnya dan bila punya asuransi kesehatan obat bisa dimiliki secara gratis. Kemudian Moore datang kesalah satu rumah sakit pemerintah yang dioperasikan oleh NHS. Disana dia mewawancarai beberapa pasien, dan ternyata mereka tidak membayar sepeserpun, ya karena mereka memakai asuransi dri pemerintah dan disana tidak ada syarat – syarat atau permainan seperti di Amerika. Seakan tidak percaya, moore terus menjelajahi rumah sakit tersebut, sampai akhirnya ia menemukan papan tanda loket pembayaran. Ternyata loket itu adalah loket tempay pasien mengambil uang yang disediakan rumah sakit tersebut bagi pasien yang tidka punya uang untuk pulang. Masih tidak percaya, moore lalu mewawancarai para dokter disana, saat bertanya ke salah satu dokter, dokter itu malah tertawa. Dokter disana digaji oleh pemerintah dan semua biaya rumah sakit ini gratis bagi yang mendapatkan asuransi dan untuk mendapatkan asuransinya pun sangat mudah. Yang lebih hebat kehidupan sang dokter pun terjamin, punya rumah seharga 1 juta dolar, digaji 85 ribu pounds pertahun bahkan bisa mencapai 200 ribu pounds!!.

Kemudian Moore pergi ke prancis, yang ia temui sama, pelayanan kesehatan gratis. Menurut salah satu dokter disana, Dr Jacques Milliez, “ kamu sakit, kamu tinggal ke rumah sakit, kamu dapatkan yang kamu butuhkan. Tidak tergantung bayaran, ini tergantung apa yang kamu butuhkan. Prinsip utama adalah solidaritas.“ Kemudian ia berbincang – bincang dengan orang – orang Amerika yang tinggal di Prancis. Menurut mereka, disini mereka tidak perlu menunggu lama untuk dilayani, bahkan ada pelayanan “ house call doctor “ yang siap sedia datang ke rumah – rumah untuk mengobati warga dan itu gratis. Pemerintah sana juga menetapkan peraturan dalam bekerja. Para pegawai di kasih jatah minimal 5 minggu untuk cuti dan jam kerja hanya 35 jam perminggu baik pekerja part time atau full time. Bila kita menikah dikasih lagi tambahan 1 minggu tambahan cuti dan saat anak kita berumur 3 bulan, ada servis gratis dengan mengirimkan satu orang pembantu untuk memberikan tips merawat anak dan membantu pekerjaan rumah tangga. Biaya pendidikan pun gratis sampai tingkat perguruan tinggi. Salah satu kuncinya menurut mereka adalah, pemerintah takut dengan rakyat takut dengan reaksi rakyat. Sedangkan di Amerika rakyat takut dengan pemerintah, takut untuk beraksi takut untuk memprotes. Tapi di Prancis tidak, rakyat berani utnuk memprotes pemerintah. Di film ini tampilkan unjuk rasa besar – besaran rakyat dari kaum pelajar, pekerja yang memprotes soal tunjangan sosial, jam kerja, lingkungan kerja, bahkan ada kaum kristiani yang memprotes hari senin pentakosta dijadikan hari kerja.

Itulah tadi sedikit isi dari film dokumenter ini. Inti film ini adalah mengisahkan keadaan negara – negara di eropa seperti inggris dan prancis dengan negara Amerika dari segi pelayanan publiknya. Kalau di Amerika pelayanan public diserahkan ke perusahaan swasta sedangkan di prancis atau inggris dipegang oleh pemerintah. Perbedaan yang terlihat, jelas ada di kontribusi pemerintahnya. Kalau bisa disimpulkan pelayanan kesehatan, pendidikan di amerika itu dikuasai oleh swasta, terutama di bidang kesehatan, berbeda dengan prancis dan inggris yang pemerintahannya melayanai kebutuhan public secara gratis. Kesehatan dan pendidikan adalah hal yang menyangkut hayat hidup orang banyak, semua orang butuh sehat dan pendidikan yang merupakan kebutuhan dasar dari manusia.

Bagaimana dengan di Indonesia ya?? Hehe, yang jelas dan menurut sepenglihatan saya, cendrung tidak teratur ya, ada rumah sakit pemerintah yang bagus banget, ada yang jelek banget ( sampe2 Cuma jadi tempat numpang mayat yg tidak diketahui,,hehe), dan memang sebagian besar rumah sakit yang bagus dan peralatannya canggih tuh punya swasta namun biaya yg dibutuhkan sangat mahal. Ibu saya salah satu karyawan di salah satu rumah sakit swasta, dan cukup kenal dengan petinggi2 sana. Kalau menurut Ibu saya, tiap rumah sakit swasta, dalam hal ini rumah sakit tempat beliau kerja, diwajibkan menyediakan fasilitas layanan ruangan untuk rakyat yang kurang mampu sebanyak berapa ruangan gitu, saya lupa,,hehe. Dan memang harus diakui pelayanan di swasta lebih bagus,peralatan yang canggih, dokter yang mantap, dan fasilitas2nya oke punya.

Kalau melihat di APBN 2008 ( sumber : http://www.anggaran.depkeu.go.id/web-print-list.asp?ContentId=303 )

NO.

FUNGSI

PAGU (dlm ribuan Rp.)

%

1

Pelayanan Umum

111.059.969.812

35,60 %

2

Pendidikan

64.029.169.178

20,53 %

3

Ekonomi

63.625.526.989

20,40 %

4

Kesehatan

17.270.309.986

5,54 %

5

Ketertiban dan Keamanan

15.236.507.832

4,88 %

6

Perumahan dan Fasilitas Umum

14.129.034.043

4,53 %

7

Pertahanan

13.986.445.712

4,48 %

8

Lingkungan Hidup

6.734.114.090

2,16 %

9

Perlindungan Sosial

3.524.453.466

1,13 %

10

Pariwisata dan Budaya

1.429.793.061

0,46 %

11

Agama

921.640.091

0,30 %

TOTAL

311.946.964.260

100%

Kesehatan menempati urutan keempat, dan di bagian ketertiban dan keamanan ada program penanggulangan bencana, yang dimana anggaran yang disediakan hanya 450an juta. Melihat saat ini di Indonesia banyak kasus dalam kesehatan dan bencana alam yang terjadi, saya melihat dengan anggaran seperti ini tidak akan memadai. Apakah ini salah perencanaan, atau hanya kesialan??

Advertisements